“Kita akan selalu melihat perbedaan harga antara harga fuel oil, harga BBM, dengan harga kelapa sawit, deltanya berapa. Kajian B50 diteruskan, uji coba otomotif juga lanjut. Jadi kita tergantung pada dinamika harga,” jelas Airlangga.
Jadi, opsi B50 masih digodok, menunggu hasil kajian lebih lanjut terkait pergerakan harga.
Di sisi lain, data dari lapangan justru menunjukkan aktivitas ekspor yang cukup bergairah. Para surveyor kargo melaporkan, pengiriman minyak sawit dari Malaysia pada sepuluh hari pertama Januari melonjak antara 18 hingga 29 persen dibanding bulan sebelumnya. Impor dari China juga ikut naik, mencatatkan pertumbuhan terkuat dalam tiga bulan terakhir sepanjang Desember, didorong permintaan akhir tahun.
Dengan permintaan yang lumayan tinggi ini, harga CPO sebenarnya masih mampu naik 0,92 persen dalam sebulan terakhir. Tapi, jika dibandingkan dengan posisi setahun lalu, harganya masih terpangkas cukup dalam, sekitar 7,31 persen lebih rendah. Secara historis, puncak tertinggi harga komoditas ini masih jauh, yaitu MYR 7.268 per ton yang tercapai pada Maret 2022 silam.
Artikel Terkait
Roby Tremonti Merasa Disindir Aurelie Lewat Karakter Bobby dalam Buku
Korea Selatan Suntik Rp 128 Miliar untuk Pastikan Keakuratan Isi Daya Kendaraan Listrik RI
PELNI Logistics Pacu Bongkar Muat Hampir 60 Ribu TEUs pada 2026
Hindari Kamar Berakhiran -01 dan -02 Jika Ingin Tidur Nyenyak di Hotel