Tapi jangan salah. Di sela-sela tekanan, selalu ada kehangatan kecil yang muncul. Sebatang rokok terakhir yang dibagi. Sepiring gorengan dari pedagang untuk panitia yang kelaparan. Tawa pendek yang pecah, hanya sebentar, tapi cukup untuk mengisi ulang semangat yang mulai kendur.
Malam pun tiba, membawa rasa lega yang campur aduk dengan lelah yang mendalam. Pengunjung berangsur pulang, membawa foto dan kenangan. Sementara di belakang, panggung mulai dibongkar, kabel-kabel digulung pelan. "Invoice-nya jangan lupa ya," celetuk seorang vendor, setengah bercanda. Semua paham, menunggu pembayaran kadang lebih melelahkan daripada mengangkat speaker seharian.
Ada yang pulang dengan penghasilan yang cukup. Ada yang pulang sambil menghitung utang. Tak sedikit juga yang cuma bisa bersyukur karena acara berjalan tanpa insiden besar.
Tapi lihatlah. Besok atau lusa, ketika ada tawaran event baru masuk, kebanyakan dari mereka akan balas pesan dengan satu kata: "Siap."
Bukan karena hidup mereka mudah. Bukan pula karena bayarannya selalu memuaskan. Tapi karena di tengah semua ketidakpastian, mereka masih percaya pada kerja, pada pertemuan, pada harapan kecil yang mungkin lahir dari satu acara ke acara lainnya.
Di balik gemerlap event yang riuh, ada cerita manusia biasa yang bertahan. Bukan dengan sorak-sorai, tapi dengan kesabaran yang dipelajari hari demi hari, dengan saling menguatkan di saat sulit, dan keyakinan sederhana bahwa kerja mereka sekecil apa pun tetap punya arti.
Artikel Terkait
Dua Remaja Pelaku Pelecehan di Kembangan Ditangkap Usai Aksi Viral
KPK Ungkap Bukti Aliran Dana, Petinggi NU Tetap Bantah Terlibat Kasus Kuota Haji
Kia Carens Facelift Siap Debut di IIMS 2026, Tanda Era Baru Kia Indonesia
Inter Milan Menang Tipis, Napoli Tersendat di Laga Tunda Serie A