Dosen Hilang, Nilai Datang: Ironi Pendidikan di Balik Feed Medsos

- Kamis, 15 Januari 2026 | 03:06 WIB
Dosen Hilang, Nilai Datang: Ironi Pendidikan di Balik Feed Medsos

Ini bukan soal melarang dosen tampil di publik. Ini soal keseimbangan. Pendidikan tak bisa dibangun hanya lewat citra; ia butuh kehadiran dan komitmen yang riil.

Nilai Datang, Penjelasan Tidak

Nilai akhir sejatinya adalah cermin dari proses. Tapi ketika prosesnya hampir nol, nilai yang muncul terasa seperti keputusan sepihak dari langit. Tak ada umpan balik, tak ada klarifikasi. Ruang untuk bertanya pun sempit.

Alhasil, mahasiswa menerima nilai begitu saja. Bukan karena mereka paham di mana letak kesalahannya, tapi karena mereka tak punya pilihan lain.

Budaya Diam yang Mengakar

Lantas, mengapa kondisi ini bisa bertahan? Salah satu biang keroknya adalah budaya diam yang terpelihara. Banyak mahasiswa memilih bungkam, takut dicap sebagai pembuat onar. Evaluasi dosen memang ada, tapi dampaknya sering tak kelihatan.

Ketika suara mereka tak didengar, ketidakadilan lambat laun berubah jadi norma yang diterima begitu saja.

Menghidupkan Kembali Etika Akademik

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan secara personal. Ini lebih pada pengingat: etika akademik itu jalan dua arah. Kehadiran, komunikasi, dan transparansi penilaian bukan formalitas belaka. Itu adalah inti dari tanggung jawab profesional seorang pendidik.

Jika kampus ingin meluluskan insan yang kritis dan berintegritas, maka praktik di dalam kelas harus menjadi contoh pertama.

Mahasiswa sejatinya tak menuntut yang muluk-muluk. Mereka cuma butuh kejelasan, pendampingan yang konsisten, dan penilaian yang adil. Saat dosen hilang, komunikasi putus, ujian dadakan, dan nilai jeblok datang tanpa penjelasan, yang patut dipertanyakan bukan cuma kemampuan mahasiswa. Tapi lebih pada, bagaimana sistem pendidikan ini dijalankan.

Karena pendidikan yang bermutu tak mungkin lahir dari ketidakpastian. Ia hanya bisa tumbuh dari proses yang jujur, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan.


Halaman:

Komentar