"Kalau menunya telur, ya butuh 82 juta butir telur. Kalau paha ayam, ya 82 juta paha. Belum lagi sayur-mayur dan lain-lain. Selama ini kita sering dengar hilirisasi di pertambangan, nah dengan MBG, hilirisasi agrikultur akhirnya benar-benar terjadi," imbuhnya.
Pola konsumsinya pun bisa disesuaikan dengan kearifan lokal. Daerah pesisir bisa mengandalkan ikan, sentra peternakan fokus pada ayam dan telur, sementara daerah lain mengembangkan komoditas andalan mereka sendiri.
"Dengan begitu, setiap provinsi, kabupaten, hingga desa punya peluang untuk mengindustrialisasi sektor agrikulturnya," katanya.
Anindya juga memberi apresiasi pada strategi Badan Gizi Nasional yang memilih skema kemitraan. Meski anggaran pemerintah besar, menjalankan semuanya sendiri justru kurang efektif. Pendekatan kolaboratif dinilai lebih cerdas.
"Coba pikirkan jika 20 atau 30 ribu dapur itu harus dikelola sendiri oleh pemerintah. Walaupun dananya ada, proses survei, tender, dan sebagainya akan sangat rumit dan lambat. Target bisa meleset. Dengan kemitraan, semua pihak diuntungkan," jelas Anindya.
Jadi, program yang terlihat sederhana ini ternyata punya daya ungkit yang luar biasa. Dari piring anak sekolah, roda ekonomi bisa digerakkan, lapangan kerja tercipta, dan hilirisasi akhirnya menemukan momentumnya.
Artikel Terkait
Buruh Serbu Jakarta Besok, Tuntut UMP DKI Naik Jadi Rp5,89 Juta
Di Balik Sorak Sorai: Kisah Lelah dan Harapan Para Penjaga Panggung
Era Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Berakhir
Dua Tahun Lagi, Indonesia Targetkan Produksi Sendiri BBM Oktan Tinggi