Airbus berhasil mengirimkan 793 pesawat komersial sepanjang tahun 2025. Angka ini memang menunjukkan kenaikan tipis dibanding tahun sebelumnya. Tapi, jangan salah, capaian itu jauh dari target awal mereka. Masalah di lini produksi menjadi biang keladinya.
Sebenarnya, raksasa dirgantara Eropa itu menargetkan kenaikan pengiriman hingga tujuh persen. Nyatanya, mereka cuma mampu mencatatkan kenaikan empat persen saja. Menurut sejumlah analis, salah satu kendala besar datang dari model andalan mereka, A320. Ada persoalan kualitas pada panel badan pesawat yang memperlambat segalanya.
Ini bukan cuma masalah Airbus semata. Pesaing bebuyutannya, Boeing, juga menghadapi tantangan serupa. Keduanya masih kesulitan mengembalikan level produksi ke masa sebelum pandemi melanda. Jaringan pemasok mereka masih berantakan, padahal permintaan dari maskapai justru sedang tinggi-tingginya. Maskapai di seluruh dunia ingin memperbarui armada dengan pesawat yang lebih irit bahan bakar, sekaligus bersiap menampung lonjakan penumpang dalam beberapa dekade ke depan.
Kalau melihat ke belakang, situasinya memang berbeda jauh. Di tahun 2019, Airbus bisa mengirim 863 unit pesawat. Itu semua terjadi sebelum COVID-19 mengguncang ekonomi global.
Bagi investor, angka pengiriman ini adalah sesuatu yang selalu diawasi dengan ketat. Alasannya sederhana: sebagian besar pembayaran dari maskapai cair saat pesawat benar-benar diserahkan. Jadi, wajar jika ini menjadi indikator kunci kesehatan keuangan perusahaan.
Di sisi lain, ada kabar baik dari sisi pemesanan. Sepanjang 2025, Airbus berhasil meraup pesanan untuk 1.000 unit pesawat baru. Jumlah yang cukup fantastis.
Sementara itu, dari seberang Atlantik, Boeing juga bersiap mengumumkan data serupa pekan ini. Performa mereka selama 11 bulan pertama 2025 terlihat mulai bangkit dengan 537 pesawat terkirim, ini jadi periode terbaik mereka sejak 2018. Periode sebelum dua kecelakaan tragis 737 MAX yang sempat menjungkalkan perusahaan.
Nah, para analis pasar memprediksi total pengiriman Boeing di tahun 2025 akan berada di kisaran 590 hingga 610 unit. Perjalanan mereka menuju pemulihan total tampaknya masih panjang, namun setidaknya ada titik terang.
Artikel Terkait
Duel Kiper Gemilang Warna Imbang Sengit Moncongbulo FC vs Asahan Allstar di Pro Futsal League
BSI Catat Kenaikan Pembiayaan Kendaraan 14,6% di Awal 2026
Gubernur DKI Dorong BUMD Naik Kelas dan Ekspansi ke Pasar Global
PNM Raih Penghargaan Internasional untuk Penerbitan Sukuk Rp3,77 Triliun