Di sisi lain, pembicaraan itu tidak hanya berisi kecaman dan belasungkawa. Shoigu, yang juga mantan menteri pertahanan itu, menegaskan kembali komitmen Moskow untuk mempererat kerja sama bilateral. Dasar utamanya adalah Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang diteken kedua negara awal tahun lalu, tepatnya 17 Januari 2025. Mereka sepakat untuk terus berkoordinasi menyikapi berbagai masalah keamanan bersama.
Perjanjian itu sendiri bukan sekadar dokumen biasa. Ia menandai babak baru dalam hubungan Moskow dan Teheran, terutama di bidang militer dan ekonomi. Dan kerja sama yang kian mesra ini tentu saja diawasi dengan ketat dan sering dikritik oleh negara-negara Barat.
Jadi, lewat telepon itu, pesan Rusia terkirim dua arah: solidaritas untuk Iran di tengah gejolak dalam negeri, dan sinyal kepada Barat untuk urung mencampuri.
Artikel Terkait
Target Meleset, Airbus Hanya Kirim 793 Pesawat Sepanjang 2025
Menyingkap Kedung Kayang: Pesona dan Perhatian di Bawah Rindang Merapi
Knesset Bergemuruh: Seruan Pendudukan Gaza Langgar Rencana Damai AS
Zahra Muzdalifah Bocorkan Resep Pelatih Ideal untuk Garuda Pertiwi