Di sisi lain, banjir ini juga memaksa banyak warga mengungsi. Mereka mencari perlindungan di berbagai tempat, mulai dari rusunawa, sekolah, hingga rumah ibadah. Data pengungsian yang dikumpulkan BPBD cukup lengkap.
Di Tegal Alur, Jakarta Barat, 30 KK (130 jiwa) mengungsi di rusun dan 8 KK (23 jiwa) di RPTRA Alur Anggrek. Sementara itu, pengungsian terbesar tercatat di Rusun Embrio, Semper Barat, yang menampung 207 KK atau 625 jiwa.
Titik pengungsian lain tersebar di Jakarta Utara: SMPN 266 Cilincing (86 KK/230 jiwa), Gedung Pelayanan Masyarakat di Kalibaru (50 KK/68 jiwa), sebuah bengkel mobil di Sukapura (25 KK/91 jiwa), serta beberapa masjid dan mushola di Lagoa, Kebon Bawang, dan Warakas yang menampung puluhan keluarga.
Selain permukiman, lalu lintas juga terganggu. Pagi tadi, enam ruas jalan masih terpantau tergenang. Genangan itu tersebar di beberapa lokasi strategis.
Di Utara, jalan seperti Swasembada Raya di Kebon Bawang (10 cm), Kampung Bahari di Tanjung Priok (30 cm), hingga depan Stasiun Ancol di Jalan RE Martadinata (30 cm) terendam. Jalan Gunung Sahari depan Lantamal dan Jalan Muara Baru di Pluit juga tergenang masing-masing 15 cm dan 10 cm. Lalu, di Semper Barat, Jalan Syech Nawawi Al Bantani depan PT Justus terendam cukup dalam, 40 cm.
Pemandangan ini jelas mengganggu aktivitas warga ibu kota di pagi hari. Genangan yang tersisa itu menjadi pengingat betapa rentannya kota ini ketika hujan tinggi datang.
Artikel Terkait
KPK Geledah Rumah Eks Pj Sekda Pati Terkait Kasus Suap Pengisian Jabatan
BNI Siapkan Likuiditas Rp24 Triliun untuk Antisipasi Kebutuhan Lebaran 2026
Sekretaris Kabinet Tegaskan Makan Bergizi Gratis Tak Kurangi Anggaran Pendidikan Lain
Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional 2026 untuk 70 Ribu Lulusan Baru