Dia menuding aksi unjuk rasa telah disusupi oleh teroris terlatih. Tujuan mereka sederhana: menciptakan kekacauan dan memicu pertumpahan darah. Dengan begitu, AS punya alasan untuk melancarkan agresi militer.
“Teroris terlatih menyusup ke barisan demonstran dan menyerang para demonstran serta personel keamanan,”
ujarnya tegas.
Namun begitu, di balik kata-kata siap tempur, Araghchi tetap menyisakan celah untuk diplomasi. Pemerintah Iran disebut sedang menjajaki opsi pertemuan dengan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Jalan lain juga dibuka, semua demi mencegah eskalasi yang lebih parah.
Hanya saja, keraguan besar masih menggantung. Iran meragukan keseriusan AS untuk berunding secara konstruktif. Apalagi, ancaman militer masih terus bergema, membuat suasana sulit untuk tenang.
Artikel Terkait
CSIS Soroti Dampak Terbatas Perjanjian Dagang Indonesia-AS, Hanya 2% Ekspor Terfasilitasi
Kemenhaj: 162 Ribu Dokumen Haji Diproses, Target Selesai Awal Maret
DKI Jakarta Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis, Mulai Juli 2026
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afghanistan, Menteri Pertahanan Sebut Perang Terbuka