Dia menuding aksi unjuk rasa telah disusupi oleh teroris terlatih. Tujuan mereka sederhana: menciptakan kekacauan dan memicu pertumpahan darah. Dengan begitu, AS punya alasan untuk melancarkan agresi militer.
“Teroris terlatih menyusup ke barisan demonstran dan menyerang para demonstran serta personel keamanan,”
ujarnya tegas.
Namun begitu, di balik kata-kata siap tempur, Araghchi tetap menyisakan celah untuk diplomasi. Pemerintah Iran disebut sedang menjajaki opsi pertemuan dengan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Jalan lain juga dibuka, semua demi mencegah eskalasi yang lebih parah.
Hanya saja, keraguan besar masih menggantung. Iran meragukan keseriusan AS untuk berunding secara konstruktif. Apalagi, ancaman militer masih terus bergema, membuat suasana sulit untuk tenang.
Artikel Terkait
Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation, Bawa Misi Global
Setelah Duka, Joanna Alexandra Sambut Cinta Baru dengan Cincin Pertunangan
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Harga Buyback Ikut Naik
Kia Resmi Transformasi, Siapkan Babak Baru di Indonesia