“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah penjajah (Israel) maupun semua pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di kawasan, akan menjadi target sah kami,”
tegasnya lagi.
Tapi, seberapa realistis ancaman balasan semacam itu? Banyak yang meragukan. Apalagi mengingat sistem pertahanan udara Iran porak-poranda dalam bentrokan 12 hari melawan Israel bulan Juni lalu. Pada akhirnya, keputusan untuk berperang atau tidak sepenuhnya ada di tangan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Di sisi lain, pihak AS tampaknya tidak terlalu gentar. Misi militer AS di Timur Tengah, Centcom, menyatakan kesiapan penuh pasukannya. Mereka mengklaim punya seluruh kemampuan tempur, termasuk pertahanan untuk menghadapi segala kemungkinan pembalasan dari Iran.
Jadi, situasinya seperti bara dalam sekam. Demonstrasi dalam negeri belum usai, ancaman perang dengan kekuatan asing sudah menganga. Menunggu siapa yang akan gerak lebih dulu.
Artikel Terkait
Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS
Inspirasi Ceramah Singkat Ramadhan: Dari Kejujuran hingga Empati Sosial
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir