DUBAI Kerusuhan di Iran belum juga reda. Minggu lalu, aksi unjuk rasa yang sudah berlangsung dua pekan masih terus bergulir di berbagai penjuru negeri. Suasana makin mencekam dengan laporan korban jiwa yang terus bertambah. Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, angka tewas sudah mencapai 117 orang. Belum lagi sekitar 2.600 pengunjuk rasa yang diciduk aparat di berbagai kota, lengkap dengan beragam tuduhan.
Di tengah situasi panas ini, pimpinan parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru melontarkan ancaman terbuka ke Amerika Serikat. Ancaman itu muncul sebagai respons dari pernyataan pejabat AS yang menyebut Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan ke Iran.
“Rakyat Iran harus paham bahwa kita akan menindak mereka dengan cara yang paling keras dan menghukum mereka yang ditangkap,”
Begitu kata Ghalibaf dalam sidang parlemen yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah. Suaranya tegas, penuh amarah.
Tak cuma ancaman, pidatonya juga diwarnai pujian. Dia memuji kinerja polisi dan pasukan Garda Revolusi, khususnya Basij, yang disebutnya berjasa melindungi kepentingan negara dari aksi-aksi kekerasan demonstran.
Namun begitu, inti pidatonya jelas: peringatan untuk AS dan Israel. Ghalibaf menegaskan, jika Iran diserang, maka militer AS dan Israel akan jadi target balasan yang sah. Ancaman ini langsung disambut riuh anggota parlemen lainnya dengan yel-yel, “Matilah Amerika!”
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai