Ombak Tiga Meter, Nelayan Semarang Terjepit Antara Risiko dan Isi Perut

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:24 WIB
Ombak Tiga Meter, Nelayan Semarang Terjepit Antara Risiko dan Isi Perut

Laut masih murka. Sudah hampir dua pekan, ombak besar terus menggulung kawasan pantai utara Jawa, memaksa para nelayan untuk mengurungkan niat melaut. Gelombang setinggi tiga meter itu bukan main-main. Mereka pun terpaksa menepi.

Di Kali Banger dan Tambak Lorok, Semarang, pemandangannya sama: perahu-perahu disandarkan rapat. Mesinnya senyap. Jaring-jaring sudah dilipat, menunggu laut kembali bersahabat. Bagi mereka yang hidupnya bergantung pada hasil tangkapan, situasi ini benar-benar memukul. Penghasilan pun terhenti.

Untuk menyambung hidup, banyak yang cari akal. Sebagian banting setir jadi buruh bangunan atau mengendarai ojek online. Pilihan lain memang hampir tak ada.

Menurut Slamet Ari Nugroho dari KNTI Jawa Tengah, dampaknya sangat luas. Hampir seribu nelayan di Semarang terdampak langsung oleh cuaca ekstrem ini.

“Gelombangnya bisa sampai tiga meter. Kalau tetap melaut, risikonya besar. Tapi kalau tidak melaut, ya tidak ada penghasilan untuk keluarga,”

ungkap Ari, Selasa lalu. Dilema yang nyata.

Dia menceritakan, nelayan muda relatif lebih lincah beradaptasi. Mereka keluar, cari kerja apa saja di darat agar dapur tetap ngebul. Tapi memaksakan diri melaut saat laut sedang ganas? Itu percuma. Seringnya, yang dibawa pulang bukan ikan, melainkan sampah laut. Bahan bakar habis, hasil nihil.

“Kalau dipaksakan melaut, yang didapat bukan ikan, tapi sampah. BBM habis, ikan tidak ada,”

katanya lagi.

Namun begitu, ceritanya berbeda untuk nelayan senior. Bagi yang usianya di atas 45 tahun, meninggalkan laut terasa jauh lebih sulit. Bertahan di laut meski berisiko tinggi sering jadi pilihan satu-satunya. Sebab, melaut adalah hidup mereka. Satu-satunya keahlian yang dikuasai.

“Kami ini sudah tua, mau kerja apa lagi?”

begitu Ari menirukan keluhan mereka. Suara yang penuh kepasrahan.

Dampaknya tentu merembet. Pasokan ikan segar di pasar mulai menipis, dan ini berpotensi mendongkrak harga. Situasi yang bakal memberatkan konsumen juga.

Memang sudah ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban. Tapi menurut Ari, jumlahnya belum mencukupi dan kurang tepat sasaran. Hampir 900 nelayan terdampak, tapi bantuan hanya menyentuh sekitar 400 orang.

“Ini rawan menimbulkan kecemburuan. Harapan kami, bantuan bisa diberikan berdasarkan data yang tepat dan merata,”

pungkasnya. Laut masih belum tenang, dan ketidakpastian terus menggayuti kehidupan para pencari nafkah dari ombak ini.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar