Dia yakin, mahasiswa IBI Kesatuan bisa jadi role model dan mentor yang efektif bagi remaja-remaja itu.
Di sisi lain, ada satu lagi persoalan yang mengintip di balik citra Bogor sebagai kota sejuk dan pendidikan: kesenjangan sosial. Perbedaan akses terhadap ekonomi, pendidikan, dan layanan publik masih terasa tajam. Di sinilah, Partai Perindo merasa punya peluang. Dengan basis ideologi ekonomi kerakyatannya, mereka bisa mendorong kebijakan yang lebih inklusif, memperkuat UMKM dan koperasi.
Lalu, di mana peran mahasiswa? Mereka punya kapasitas analitis untuk memetakan masalah kesenjangan ini secara objektif. Hasil riset dan kajian mereka bisa jadi bahan rujukan berharga bagi para pengambil kebijakan. Tujuannya jelas, agar pembangunan kota tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tapi juga pemerataan yang nyata.
Pada akhirnya, kolaborasi jadi kuncinya. Firdaus menegaskan, Partai Perindo bisa berperan di aras kebijakan, advokasi, dan penganggaran. Sementara mahasiswa IBI Kesatuan Bogor berkontribusi dengan gagasan segar, inovasi, dan kerja sosial langsung di akar rumput.
Sinergi semacam ini, jika berjalan berkelanjutan, bisa mengubah cara pandang. Isu sampah, tawuran, dan kesenjangan bukan lagi sekadar masalah yang disesali, melainkan peluang untuk membangun Bogor yang lebih adil, berkelanjutan, dan manusiawi.
Artikel Terkait
Prabowo Pimpin Rapat Malam, Pacu Industri Tekstil hingga Semikonduktor
VinFast Serobot Peringkat Lima, Dominasi Jepang di Pasar Mobil RI Mulai Tergoyahkan?
Kampung Haji Indonesia di Makkah Tertunda, Baru Bisa Digunakan 2027
30 Ribu Hektare Tambak Aceh Hancur Diterjang Banjir, Puluhan Ribu Pembudidaya Terpukul