Kapal perintis itu sempat diuji coba dalam proyek kolaborasi Jepang-Australia di tahun 2022. Intinya, mereka ingin membuktikan satu hal: bahwa mengirimkan hidrogen cair melintasi samudera itu bisa dilakukan dengan aman. Dan rupanya, hasilnya memuaskan.
Lantas, kenapa sekarang membuat kapal yang jauh lebih besar? Jawabannya sederhana: antisipasi. Kawasaki membaca ada lonjakan permintaan hidrogen global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2030-an nanti. Mereka ingin siap lebih dulu.
Diharapkan, kehadiran kapal berteknologi mutakhir ini bisa mendorong terbentuknya rantai pasokan hidrogen cair yang benar-benar komersial dan masif. Hidrogen sendiri memang sedang naik daun, dipandang sebagai salah satu pilar energi masa depan. Potensinya untuk mendukung dekarbonisasi dan transisi energi global dinilai sangat besar.
Jadi, ini lebih dari sekadar pembuatan kapal. Ini adalah langkah strategis menuju peta energi dunia yang baru.
Artikel Terkait
Iran Ancam Balas AS dan Israel di Tengah Kerusuhan yang Tak Kunjung Padam
Prabowo Pimpin Rapat Malam, Pacu Industri Tekstil hingga Semikonduktor
VinFast Serobot Peringkat Lima, Dominasi Jepang di Pasar Mobil RI Mulai Tergoyahkan?
Kampung Haji Indonesia di Makkah Tertunda, Baru Bisa Digunakan 2027