Dokter Tifa Sindir Orang Hina Usai Tersangka Kasus Ijazah Sowan ke Jokowi

- Senin, 12 Januari 2026 | 07:20 WIB
Dokter Tifa Sindir Orang Hina Usai Tersangka Kasus Ijazah Sowan ke Jokowi

Lewat akun X-nya, Dokter Tifauzia Tyassuma menyindir soal "orang hina". Cuitan itu muncul Sabtu (10/1/2026), bertepatan dengan momen yang cukup menarik perhatian publik.

Beberapa tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan ijazah Presiden Jokowi ternyata mendatangi mantan presiden itu di Solo. Mereka sowan, istilahnya. Tindakan itulah yang rupanya memantik komentar Dokter Tifa.

Dalam unggahannya, dia menegaskan pilihan yang dihadapi setiap orang. Pilihannya sederhana tapi berat: berani atau hina.

"Memilih menjadi orang yang seBERANI-BERANInya, atau menjadi orang yang seHINA-HINAnya. Pilihan di tangan kita,"

Begitu tulisnya tegas. Sindiran itu jelas punya konteks. Menurut sejumlah saksi, dua tersangka kasus tersebut, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, memang bertemu Jokowi di Sumber, Solo, pada Kamis (8/1/2026). Pertemuan tertutup itu dihadiri juga kuasa hukum dan beberapa tokoh Relawan Jokowi (ReJO).

Nah, di tengah situasi itulah Dokter Tifa bersuara. Dia menyebut dirinya bersama dua pakar lain, Rismon Sianipar dari digital forensik dan Roy Suryo di bidang telematika, telah memilih jalan pertama: menjadi orang berani.

Memang, kata dia, ketiganya tak selalu tampil kompak. Ada kalanya cuma dua yang terlihat, atau bahkan sendirian. Foto bersama yang dia unggah pun seolah menegaskan bahwa kebersamaan fisik mereka tidak mutlak.

"Mungkin kami tidak selalu terlihat sama-sama. Mungkin yang berhasil kumpul cuma dua. Mungkin suatu kali yang terlihat tampil hanya satu saja,"

Namun begitu, ada satu momen yang menyatukan mereka. Tanggal 15 April 2025, di kampus UGM, menjadi titik awal. Sejak saat itu, mereka berjuang untuk satu tujuan yang sama.

"Tapi 15 April 2025, di kampus kami UGM, membuat kami bertiga bertemu. Dan berjuang dalam satu. Dan akan terus begitu, selama Allah SWT mengizinkan."

Dia menutup cuitannya dengan slogan "RRT. One for all. All for One." Sebuah penegasan solidaritas di tengah gelombang kasus yang masih terus bergulir. Sindiran tentang "orang hina" itu, dalam diam, telah menyisipkan narasi baru dalam perbincangan publik yang sudah begitu panas.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini