Iran Ancam Balas AS dan Israel di Tengah Kerusuhan yang Tak Kunjung Padam

- Senin, 12 Januari 2026 | 06:25 WIB
Iran Ancam Balas AS dan Israel di Tengah Kerusuhan yang Tak Kunjung Padam

DUBAI Kerusuhan di Iran belum juga reda. Minggu lalu, aksi unjuk rasa yang sudah berlangsung dua pekan masih terus bergulir di berbagai penjuru negeri. Suasana makin mencekam dengan laporan korban jiwa yang terus bertambah. Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, angka tewas sudah mencapai 117 orang. Belum lagi sekitar 2.600 pengunjuk rasa yang diciduk aparat di berbagai kota, lengkap dengan beragam tuduhan.

Di tengah situasi panas ini, pimpinan parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru melontarkan ancaman terbuka ke Amerika Serikat. Ancaman itu muncul sebagai respons dari pernyataan pejabat AS yang menyebut Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan ke Iran.

“Rakyat Iran harus paham bahwa kita akan menindak mereka dengan cara yang paling keras dan menghukum mereka yang ditangkap,”

Begitu kata Ghalibaf dalam sidang parlemen yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah. Suaranya tegas, penuh amarah.

Tak cuma ancaman, pidatonya juga diwarnai pujian. Dia memuji kinerja polisi dan pasukan Garda Revolusi, khususnya Basij, yang disebutnya berjasa melindungi kepentingan negara dari aksi-aksi kekerasan demonstran.

Namun begitu, inti pidatonya jelas: peringatan untuk AS dan Israel. Ghalibaf menegaskan, jika Iran diserang, maka militer AS dan Israel akan jadi target balasan yang sah. Ancaman ini langsung disambut riuh anggota parlemen lainnya dengan yel-yel, “Matilah Amerika!”

p>Dia bahkan menyebut dengan lebih rinci.

“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah penjajah (Israel) maupun semua pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di kawasan, akan menjadi target sah kami,”

tegasnya lagi.

Tapi, seberapa realistis ancaman balasan semacam itu? Banyak yang meragukan. Apalagi mengingat sistem pertahanan udara Iran porak-poranda dalam bentrokan 12 hari melawan Israel bulan Juni lalu. Pada akhirnya, keputusan untuk berperang atau tidak sepenuhnya ada di tangan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

Di sisi lain, pihak AS tampaknya tidak terlalu gentar. Misi militer AS di Timur Tengah, Centcom, menyatakan kesiapan penuh pasukannya. Mereka mengklaim punya seluruh kemampuan tempur, termasuk pertahanan untuk menghadapi segala kemungkinan pembalasan dari Iran.

Jadi, situasinya seperti bara dalam sekam. Demonstrasi dalam negeri belum usai, ancaman perang dengan kekuatan asing sudah menganga. Menunggu siapa yang akan gerak lebih dulu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar