Pemerintah Irak baru saja mengumumkan pemotongan harga untuk minyak mentah Basrah Medium. Kebijakan ini, yang berlaku khusus untuk pembeli di kawasan Asia, mulai diberlakukan pada kontrak bulan Februari mendatang.
Menurut laporan Bloomberg yang dirilis Senin (12/1), diskon yang diberikan cukup signifikan. Minyak jenis itu kini mendapat potongan harga sebesar USD 1,30 per barel. Angka ini lebih dalam ketimbang diskon bulan Januari yang hanya USD 1,05 per barel.
Namun begitu, Irak tampaknya memilih bersikap berbeda untuk varian lainnya. Harga minyak Basrah Heavy untuk pasar Asia justru dipertahankan, dengan diskon yang masih tetap di angka USD 3,60 per barel.
Keputusan Baghdad ini muncul di tengah gejolak harga minyak dunia yang cukup keras. Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1) lalu, harga malah melonjak tajam. Sentimen pasar sedang dipenuhi kekhawatiran.
Ada dua sumber ketegangan utama yang bikin investor waspada. Pertama, gelombang protes yang melanda Iran berpotensi mengganggu pasokan. Kedua, eskalasi serangan Rusia di Ukraina kian menjadi-jadi.
Akibatnya, minyak Brent menguat 2,18 persen ke level USD 63,34 per barel. Sementara itu, WTI naik 2,35 persen menjadi USD 59,12 per barel. Kenaikan ini sekaligus menghentikan tren penurunan selama dua hari berturut-turut. Secara mingguan, catatannya juga positif: Brent naik sekitar 4 persen dan WTI menguat sekitar 3 persen.
Fokus banyak pihak kini tertuju ke Iran. Protes yang meluas dari Teheran, Mashhad, hingga Isfahan memicu spekulasi. Apakah produksi minyak negara itu bakal terganggu?
"Gejolak di Iran membuat pasar tetap waspada,"
kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Situasinya memang makin panas. Kabar tentang pemadaman internet nasional beredar, sementara demonstrasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru dari OPEC seolah mengonfirmasi kekhawatiran itu. Pasokan dari kartel minyak itu menyusut 100.000 barel per hari bulan lalu, menjadi 28,40 juta barel per hari. Penurunan terbesar justru datang dari Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, perang di Ukraina juga terus memanas dan memengaruhi pasar. Militer Rusia mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik Oreshnik untuk menghantam target infrastruktur energi Ukraina. Serangan itu, menurut mereka, bertujuan melemahkan industri militer Kyiv.
Jadi, langkah Irak memangkas harga Basrah Medium ini terjadi dalam panorama yang sangat bergejolak. Pasar seolah diimbangi antara risiko gangguan pasokan dan langkah strategis produsen untuk tetap menarik pembeli.
Artikel Terkait
Harga Tembaga Melonjak ke Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Ketidakpastian Tarif AS dan Pasokan Mengetat
PACK Pastikan Regulasi Ekspor Baru Tak Ganggu Kinerja Perusahaan
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan
45 Emiten Jadwalkan Pembagian Dividen pada Juni 2026, INTP Tertinggi Rp468 per Saham