"Gejolak di Iran membuat pasar tetap waspada,"
kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Situasinya memang makin panas. Kabar tentang pemadaman internet nasional beredar, sementara demonstrasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru dari OPEC seolah mengonfirmasi kekhawatiran itu. Pasokan dari kartel minyak itu menyusut 100.000 barel per hari bulan lalu, menjadi 28,40 juta barel per hari. Penurunan terbesar justru datang dari Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, perang di Ukraina juga terus memanas dan memengaruhi pasar. Militer Rusia mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik Oreshnik untuk menghantam target infrastruktur energi Ukraina. Serangan itu, menurut mereka, bertujuan melemahkan industri militer Kyiv.
Jadi, langkah Irak memangkas harga Basrah Medium ini terjadi dalam panorama yang sangat bergejolak. Pasar seolah diimbangi antara risiko gangguan pasokan dan langkah strategis produsen untuk tetap menarik pembeli.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Tipis 0,46% di Sesi Pagi, Volume Transaksi Tembus Rp10 Triliun
Autopedia Rencanakan Buyback Saham Senilai Rp20 Miliar untuk Program MESOP
Saham Prajogo Pangestu Cetak Kenaikan Signifikan Hingga Enam Hari Berturut-turut
IHSG Dibuka Melemah, Investor Domestik Lakukan Net Sell Rp200 Miliar