"Gejolak di Iran membuat pasar tetap waspada,"
kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Situasinya memang makin panas. Kabar tentang pemadaman internet nasional beredar, sementara demonstrasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru dari OPEC seolah mengonfirmasi kekhawatiran itu. Pasokan dari kartel minyak itu menyusut 100.000 barel per hari bulan lalu, menjadi 28,40 juta barel per hari. Penurunan terbesar justru datang dari Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, perang di Ukraina juga terus memanas dan memengaruhi pasar. Militer Rusia mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik Oreshnik untuk menghantam target infrastruktur energi Ukraina. Serangan itu, menurut mereka, bertujuan melemahkan industri militer Kyiv.
Jadi, langkah Irak memangkas harga Basrah Medium ini terjadi dalam panorama yang sangat bergejolak. Pasar seolah diimbangi antara risiko gangguan pasokan dan langkah strategis produsen untuk tetap menarik pembeli.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%