Begitu melihatnya, sulit untuk tidak terpana. Undan kacamata memang punya sosok yang dramatis. Tubuhnya besar, sayapnya lebar membentang, dan paruhnya ya, paruhnya terlihat begitu fantastis, hampir tak masuk akal. Burung air yang juga dikenal sebagai pelikan Australia ini (Pelecanus conspicillatus) bukan cuma sekadar besar. Ia adalah bukti nyata betapa cerdiknya evolusi. Alam membentuknya menjadi pengembara lintas benua, lengkap dengan peralatan biologis yang ekstrem, namun luar biasa efisien.
Di dunia ilmu burung, undan kacamata sering jadi contoh sempurna untuk membahas adaptasi. Bryan Nelson pernah bilang dalam bukunya, Pelicans, bahwa pelikan itu "terlihat kikuk di darat, tapi anggun di udara dan air."
Ungkapan itu pas banget. Coba lihat di darat, langkahnya pelan dan berat. Tapi begitu mengudara, ia melayang lama, seolah tanpa beban.
Burung ini termasuk dalam keluarga Pelecanidae, satu kelompok dengan cikalang dan angsa batu. Mereka tersebar luas, hampir di semua benua kecuali Antartika. Untuk undan kacamata sendiri, Australia jadi rumah utama tempat mereka berbiak. Dari sana, mereka menyebar ke Papua Nugini, beberapa kepulauan Pasifik, dan sampai juga ke Asia Tenggara.
Nah, di Indonesia, kehadirannya cuma musiman. Statusnya disebut native non-breeding. Mereka kerap terlihat singgah di Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, sampai Papua. Tentu saja, mereka cuma muncul di tempat-tempat yang banyak ikannya. Muara sungai, laguna, atau pesisir pantai jadi tempat favorit mereka mampir.
Soal ukuran, ini burung raksasa. Panjang tubuhnya bisa nyaris dua meter. Lebih menakjubkan lagi bentang sayapnya, bisa mencapai 2,7 meter! Meski begitu, bobotnya relatif ringan, antara empat sampai tujuh kilogram. Kombinasi inilah yang bikin mereka lihai terbang jauh.
Warnanya didominasi putih, dengan sapuan hitam di sayap dan ekor. Yang bikin lucu, kulit di sekitar matanya tidak berbulu, membentuk pola mirip kacamata. Dari sinilah nama lokalnya berasal. Paruhnya merah muda pucat, kakinya kebiruan, dan semuanya diselimuti selaput renang.
Dan kita harus bahas soal paruh ini. Panjangnya bisa setengah meter, lho! Itu paruh terpanjang di antara semua jenis burung. Di bawahnya, tergantung kantung gular yang elastis dan berwarna kemerah-merahan. Kantung ini bukan untuk menimbun makanan, tapi alat tangkap yang canggih.
Seperti dijelaskan Christopher Perrins dalam Firefly Encyclopedia of Birds, kantung itu dipakai untuk menyauk ikan bersama air. Lalu, dengan hati-hati, airnya dikeluarkan sebelum ikan ditelan. Prosesnya butuh waktu sekitar semenit. Justru di momen rentan inilah, burung lain sering mencuri hasil buruannya. Memang, di alam, kelebihan selalu dibayar dengan risiko.
Kakinya pendek tapi kuat. Dengan selaput penuh, ia jadi perenang yang andal. Di air, tubuhnya sangat stabil dan nyaris mustahil tenggelam. Daya apungnya tinggi, cocok untuk strategi berburu di perairan yang dangkal.
Habitatnya fleksibel. Asal ada perairan terbuka yang penuh ikan, di situlah dia bisa tinggal. Danau, waduk, rawa, bahkan genangan musiman di daerah kering pun dia datangi. Pola hidup seperti ini yang menjelaskan kenapa sebarannya bisa sangat luas. Intinya, dia mengikuti air dan mangsanya.
Artikel Terkait
Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan
Bimbel dan Obsesi PTN: Ketika Pendidikan Hanya Jadi Ajang Strategi Lolos Ujian
Apple Siapkan Skenario Suksesi, John Ternus Disebut Calon Pengganti Tim Cook
Indonesia Bergerak dari Soft Love ke Hard Love dalam Aturan Main AI