Sebagai migran, undan kacamata sangat mobile. Dia tidak betah diam. Perpindahannya bukan cuma naluri, tapi respons logis terhadap ketersediaan makanan. Perubahan cuaca dan kelimpahan ikan sangat mempengaruhi jalur terbangnya.
Contohnya di Ujungpangkah, Gresik. Pola kedatangannya berubah. Dulu cuma tiga bulan di akhir tahun, sekarang bisa datang sejak Agustus dan bertahan sampai tujuh bulan. Perubahan iklim diduga jadi penyebabnya, meski data ilmiah lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan.
Kemampuan terbangnya benar-benar luar biasa. Daripada terus mengepak, dia lebih suka memanfaatkan arus panas untuk melayang. Dalam kondisi mendukung, dia bisa terbang non-stop selama 24 jam, menempuh ratusan kilometer, dan pernah tercatat mencapai ketinggian 3.000 meter.
Saat terbang ramai-ramai, formasi huruf V mereka jadi pemandangan khas. Pola ini menghemat energi dengan mengurangi hambatan udara. Untuk burung sebesar ini, efisiensi adalah segalanya. Rupanya alam mendesainnya sebagai penjelajah ulung, bukan sekadar penghuni rawa.
Makanan utamanya ikan. Tapi dia juga tidak menolak udang, krustasea, atau amfibi kecil. Bahkan burung kecil pun bisa jadi santapan. Teknik berburunya beragam. Kadang sendirian, kadang kooperatif menggiring ikan ke air dangkal untuk disergap bersama.
Hidupnya selalu berkoloni. Musim kawin jadi momen yang ramai dan hiruk-pikuk. Para jantan akan mengejar satu betina, sambil saling menyentuhkan paruh dalam semacam tarian. Begitu dapat pasangan, perkawinan berlangsung beberapa hari sebelum akhirnya bertelur.
Sarangnya sederhana, cuma tumpukan ranting. Si jantan yang mengumpulkan bahan, si betina yang menyusun. Mereka biasanya bertelur dua sampai empat butir, yang dierami bergantian di atas kaki. Sekitar sebulan kemudian, telur-telur itu menetas. Anak-anak pelikan itu lalu dibesarkan bersama dalam keramaian koloni.
Jantan dan betina mirip. Bedanya, si jantan biasanya lebih gede sedikit, dengan paruh yang lebih panjang. Mereka mulai dewasa secara seksual di usia tiga atau empat tahun, dan bisa hidup hingga 25 tahun di alam liar usia yang cukup panjang untuk ukuran burung.
Status konservasinya saat ini Least Concern menurut IUCN. Populasinya dianggap masih stabil. Tapi itu bukan alasan untuk tenang-tenang saja. Seperti disorot Donald PF dalam sebuah jurnal tahun 2007, ancaman global seperti penurunan stok ikan, polusi air, dan gangguan manusia tetap nyata.
Konflik dengan manusia memang terjadi. Ambil contoh di Israel. Setiap musim migrasi, puluhan ribu pelikan singgah dan mengincar ikan-ikan di keramba budidaya.
Solusinya cukup unik. Pemerintah setempat menyediakan waduk khusus yang diisi dengan ikan kelas dua sebagai pakan alternatif. Program "restoran" untuk pelikan ini bertujuan mengurangi konflik, tanpa perlu melukai satwa yang hanya sedang mencari makan itu.
Artikel Terkait
Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan
Bimbel dan Obsesi PTN: Ketika Pendidikan Hanya Jadi Ajang Strategi Lolos Ujian
Apple Siapkan Skenario Suksesi, John Ternus Disebut Calon Pengganti Tim Cook
Indonesia Bergerak dari Soft Love ke Hard Love dalam Aturan Main AI