Target investasi Rp2.100 triliun di tahun 2026 memang angka yang fantastis. Tapi, pemerintah lewat Kementerian Investasi dan Hilirisasi, tampaknya punya keyakinan penuh. Optimisme itu mereka gantungkan pada momen penting: keikutsertaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Inilah pertama kalinya sovereign wealth fund Indonesia itu turun di forum ekonomi global bergengsi tersebut.
Nurul Ichwan, Deputi Bidang Promosi dan Penanaman Modal, tak menyembunyikan harapannya. Menurutnya, kehadiran Danantara di Davos bisa menjadi alat tawar yang kuat. “Tahun 2026 ini kami diberi target Rp2.100 triliun untuk realisasi investasi, dan dimulai dari kegiatan WEF di Davos ini,” ujarnya dalam sebuah media briefing di Kantor Danantara, Jumat lalu.
Ia melanjutkan, “Satu hal yang kita punya dalam pertimbangan investor adalah stabilitas. Indonesia ini negara besar, dengan kekayaan yang luar biasa, dan punya stabilitas yang luar biasa.”
Jadi, misi khususnya jelas: mempromosikan Danantara ke panggung dunia. Agar negara-negara lain tahu, Indonesia punya dana kekayaan negara yang siap diajak kerja sama untuk membangun.
Lantas, apa yang membuat Indonesia begitu percaya diri di tengah gejolak geopolitik yang tak menentu? Jawabannya, menurut Nurul Ichwan, terletak pada posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Meski dunia bergejolak, beberapa komoditas kunci dari negeri ini akan tetap dibutuhkan. Sebut saja batubara, nikel, bauksit, dan gas.
“Kalau orang bertanya, Indonesia ekonominya bisa tetap tumbuh. Sebenarnya apa sih bahan bakarnya, punya apa sih sebenarnya Indonesia?” katanya retoris.
“Jawabannya, kita masih punya batu bara, karena kita masih punya nikel, gas, bauksit, dan banyak hal yang lainnya. Memang itu bukan duit, tapi global akan membutuhkan suplai itu dari Indonesia.”
Logikanya sederhana. Selama cadangan sumber daya alam itu masih ada, dan permintaan dunia tetap jalan, Indonesia akan selalu menjadi bagian dari percaturan ekonomi global. Ditambah populasi yang besar dan situasi politik yang relatif stabil, prospek investasi ke depan dinilainya sangat cerah.
Di sisi lain, Mohamad Al-Arief, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, punya pandangan sendiri tentang WEF. Baginya, forum itu lebih dari sekadar ajang pertemuan. Ia adalah ruang strategis yang menjembatani kepentingan nasional dengan pembangunan ekonomi.
“Kami melihat ini suatu kesempatan strategis,” kata Al-Arief.
“Tentu sektor strategis yang menjadi prioritas kami, adalah yang menjadi pembangunan nasional. Seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan pengembangan industri yang bernilai tambah.”
Singkatnya, kehadiran di Davos adalah langkah awal. Sebuah pintu masuk agar Danantara dikenal, lalu jaringan kerja sama dengan berbagai negara bisa terbangun. Dan pada akhirnya, semua berujung pada satu target besar itu: menarik investasi yang menyejahterakan.
Artikel Terkait
Dudung Abdurachman Bantah Tudingan Miliki Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Empat Prajurit BAIS TNI Terbukti Siram Air Keras ke Aktivis KontraS, Divonis 1,5 hingga 3 Tahun Penjara
Lima Negara Catat Lonjakan Peringkat FIFA, Timnas Indonesia Naik ke Posisi 118
IRGC Serang Markas Armada Kelima AS di Bahrain, Balas Serangan Militer Amerika di Iran Selatan