“Jawabannya, kita masih punya batu bara, karena kita masih punya nikel, gas, bauksit, dan banyak hal yang lainnya. Memang itu bukan duit, tapi global akan membutuhkan suplai itu dari Indonesia.”
Logikanya sederhana. Selama cadangan sumber daya alam itu masih ada, dan permintaan dunia tetap jalan, Indonesia akan selalu menjadi bagian dari percaturan ekonomi global. Ditambah populasi yang besar dan situasi politik yang relatif stabil, prospek investasi ke depan dinilainya sangat cerah.
Di sisi lain, Mohamad Al-Arief, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, punya pandangan sendiri tentang WEF. Baginya, forum itu lebih dari sekadar ajang pertemuan. Ia adalah ruang strategis yang menjembatani kepentingan nasional dengan pembangunan ekonomi.
“Kami melihat ini suatu kesempatan strategis,” kata Al-Arief.
“Tentu sektor strategis yang menjadi prioritas kami, adalah yang menjadi pembangunan nasional. Seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan pengembangan industri yang bernilai tambah.”
Singkatnya, kehadiran di Davos adalah langkah awal. Sebuah pintu masuk agar Danantara dikenal, lalu jaringan kerja sama dengan berbagai negara bisa terbangun. Dan pada akhirnya, semua berujung pada satu target besar itu: menarik investasi yang menyejahterakan.
Artikel Terkait
OKI Kecam Israel: Pengakuan Somaliland Dinilai Langgar Kedaulatan Somalia
Kekejaman di Clay County: Seorang Pria Tewaskan Enam Orang, Termasuk Anak 7 Tahun
Diskon Pajak Bodong di Jakarta Utara, Skema Korupsi Ternyata Berulang
Doktif Tegas Tolak Ajakan Damai Richard Lee: Ora Sudi!