Benteng Pendem Ambarawa: Kisah yang Kini Bisa Disambung Kembali

- Kamis, 08 Januari 2026 | 00:06 WIB
Benteng Pendem Ambarawa: Kisah yang Kini Bisa Disambung Kembali

Padahal, nilai sejarahnya sungguh luar biasa. Ia adalah saksi bisu kolonialisme, perlawanan, dan terkait erat dengan peristiwa besar seperti Palagan Ambarawa. Nama Jenderal Soedirman juga tercatat dalam sejarah wilayah ini. Setiap lorongnya terasa seperti menyimpan bisikan masa lalu; bata, kayu, dan besinya menjadi arsip hidup yang bercerita tanpa kata-kata.

Syukurlah, kesadaran untuk merawatnya akhirnya tumbuh kembali. Program revitalisasi resmi digulirkan mulai Desember 2024, dipimpin Kementerian Pekerjaan Umum dengan melibatkan Balai Penataan Bangunan dan Pemkab Semarang. Prinsipnya jelas: pelestarian cagar budaya. Struktur diperkuat tanpa mengubah bentuk aslinya.

Seperti dijelaskan Tri Subekso dalam sebuah pemberitaan, benteng ini dipulihkan, bukan sekadar dipoles berlebihan.

Anggarannya tak main-main, mencapai sekitar 143 miliar rupiah. Hasilnya? Lorong, akses jalan, dan pencahayaannya diperbaiki. Beberapa bagian dinding sengaja dibiarkan menampilkan bata asli, sementara yang lain dicat putih sesuai temuan historis. Pencahayaan kuning yang hangat membuat suasana sore di lorongnya terasa lebih hidup. Wajah barunya tetap setia pada jiwa lamanya.

Benteng Pendem akhirnya dibuka lagi untuk umum pada November 2025. Dibuka trial dulu tanggal 15, lalu grand opening dua hari setelahnya. Sekarang, benteng bisa dikunjungi tiap hari dari pagi pukul 08.00 sampai malam 20.00 WIB. Ruang yang dulu sunyi kini kembali dipenuhi langkah dan tawa pengunjung. Ia telah berubah menjadi ruang publik yang hidup.

Tiket masuknya pun ramah di kantong. Cuma sepuluh ribuan di hari kerja, naik sedikit jadi lima belas ribuan saat akhir pekan. Aksesnya dari Kota Semarang juga gampang, lewat Jalan Lingkar Ambarawa. Penandanya jelas: ada gapura besar berwarna kuning. Jalan desa menuju ke sana emang agak sempit, tapi justru memberi kesan akrab dan bersahabat.

Jadi, mengunjungi Benteng Fort Willem I ini bukan cuma sekadar jalan-jalan biasa. Ini adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini dalam satu paket yang santai. Lorong-lorongnya jadi ruang belajar yang nggak membosankan. Sejarah di sini hadir tanpa menggurui; ia bercerita lewat cahaya yang menyelinap, tekstur dinding, dan gemanya sendiri. Benteng Pendem sudah bangun dari tidur panjangnya. Dan ceritanya kini menunggu untuk disambung oleh setiap langkah kaki yang datang.


Halaman:

Komentar