Nvidia, raksasa teknologi asal Amerika Serikat, akhirnya memutuskan untuk menanamkan investasi besarnya di Malaysia. Bukan di Indonesia. Keputusan ini tentu menimbulkan tanda tanya, dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM pun buka suara.
Menurut mereka, jawabannya sederhana namun mendasar: soal sumber daya manusia. Atau lebih tepatnya, ketersediaan tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi di bidang komputer.
Nurul Ichwan, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, mengungkapkan hal ini saat ditemui di Wisma Danantara, Jumat lalu.
"Kalau yang saya sempat dengar, mereka memilih Malaysia salah satunya karena mereka mendata, berapa lulusan master dan PhD yang tersedia di Indonesia dan Malaysia sesuai kebutuhan mereka. Ya, suka tidak suka, dari hasil observasi mereka, Malaysia lebih punya banyak PhD di bidang komputer dan juga master di bidang itu,"
Jadi, survei internal Nvidia menunjukkan angka yang lebih menguntungkan bagi Malaysia. Negeri jiran itu dinilai punya lebih banyak lulusan S2 dan S3 di bidang yang benar-benar dibutuhkan untuk operasional dan riset perusahaan sekelas Nvidia.
Di sisi lain, Ichwan tak menampik bahwa Indonesia sebenarnya punya tempat yang menjanjikan. Ambil contoh Nongsa Digital Park di Batam. Kawasan itu sudah ditetapkan sebagai prioritas pengembangan ekosistem digital. Sayangnya, infrastruktur fisik saja tak cukup. Tanpa SDM mumpuni yang siap kerja, daya tariknya pun berkurang drastis.
Lantas, bagaimana ke depannya?
Ichwan menekankan, strategi pencetakan SDM harus diubah. Fokusnya perlu lebih terarah pada bidang STEM science, technology, engineering, and mathematics. Dia mendorong perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk segera menyesuaikan kurikulum. Tujuannya jelas: agar lulusan yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan industri teknologi yang terus bergerak cepat.
"Jangan sampai kita terus memproduksi SDM yang tidak relevan dengan kebutuhan industri ke depan. Notabene, industri sekarang ini semakin didukung oleh penguasaan teknologi,"
Pernyataan itu sekaligus jadi peringatan. Penguatan pendidikan STEM, menurutnya, harus jadi arus utama jika Indonesia tak ingin terus tertinggal dalam perebutan investasi teknologi bernilai tinggi.
Upaya lain yang sedang digenjot adalah kolaborasi lebih erat antara industri dan kampus. Pemerintah mendorong adanya link and match yang nyata antara dunia usaha dan akademik. Harapannya, selain menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, daya tarik Indonesia di mata investor global juga ikut terdongkrak.
Pada akhirnya, kasus Nvidia ini jadi pengingat yang cukup keras. Di peta persaingan investasi teknologi, ketersediaan SDM unggul ternyata masih menjadi PR besar yang belum tuntas.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026