Namun begitu, peluncuran prototipe ini terasa seperti pemandangan yang agak langka di CES tahun ini. Faktanya, permintaan mobil listrik di pasar global sedang melemah. Banyak perusahaan besar memilih untuk menunda atau bahkan membatalkan rencana pengembangan EV baru mereka. Tekanan tarif impor yang tinggi turut memperkeruh situasi, memaksa beberapa pabrik berhenti berproduksi.
Di sisi lain, tekanan politik juga tak bisa diabaikan. Sejak pemerintahan Presiden Donald Trump berkuasa, sejumlah kebijakan pendukung kendaraan listrik dicabut. Yang paling terasa adalah hilangnya kredit pajak sebesar USD 7.500 sekitar Rp 125,6 juta yang dulu jadi insentif andalan untuk menarik minat konsumen.
Di tengah semua tantangan itu, Sony Honda Mobility tetap melangkah. Perusahaan patungan yang dibentuk tahun 2022 ini menggabungkan dua kekuatan: keahlian rekayasa dan manufaktur Honda, dengan kecanggihan perangkat lunak dan pengalaman Sony di dunia game. Kombinasi unik inilah yang mereka andalkan untuk bertarung di arena EV yang semakin kompetitif.
Artikel Terkait
Aturan WFH ASN Berlaku, Kantor Imigrasi Tetap Buka Penuh
Survei BI: Keyakinan Konsumen Masih Optimis Meski IKK Maret 2026 Turun Tipis
SpaceX Catat Kerugian Rp85 Triliun di Tengah Persiapan IPO
Pemprov Kalteng Terapkan Sistem Kerja Fleksibel 4 Hari Kantor, 1 Hari WFH bagi ASN