Namun begitu, jangan dulu berburuk sangka. Kalau kita lihat gambaran besarnya sepanjang 2025, ceritanya berbeda. Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif justru masih tumbuh positif, mencapai USD256,56 miliar atau naik 5,61 persen dari tahun sebelumnya. Pencapaian ini terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang melesat 7,07 persen, sementara ekspor migas justru anjlok cukup dalam.
Nah, untuk bulan November 2025 sendiri, nilai ekspornya memang terkoreksi jadi USD22,52 miliar, turun 6,60 persen dari November 2024. Tapi lagi-lagi, ini baru potret satu bulan.
Dari sisi mitra dagang, China tetap yang terbesar dengan nilai ekspor nonmigas kita ke sana mencapai USD58,24 miliar. Ekspor ke Amerika Serikat, ASEAN, dan Uni Eropa juga meningkat. Di sisi lain, pengiriman ke India justru mencatatkan penurunan.
Ada satu hal yang menarik. Meski volume ekspor CPO turun drastis di November, nilai kumulatifnya sepanjang Januari-November 2025 justru naik signifikan, 19,15 persen. Sebaliknya, nilai kumulatif batu bara malah turun 20 persenan. Apa artinya? Ini mengindikasikan harga rata-rata minyak sawit di pasar global sedang kuat, sementara batu bara mungkin menghadapi tekanan harga yang lebih berat sepanjang tahun itu. Jadi, ceritanya tak melulu hitam putih.
Artikel Terkait
Kemacetan dan Infrastruktur yang Tersendat Ancam Pesona Bali di Mata Wisatawan
Benteng Pendem Ambarawa: Kisah yang Kini Bisa Disambung Kembali
Setelah 29 Tahun, Kisah Cinta Ridwan Kamil dan Atalia Berakhir di Pengadilan Agama
Sekutu Trump Ancam Bunuh Khamenei di Tengah Gelombang Demo Iran