Shell? Menurut Achmad, mereka urung lanjut karena tak dapat lampu hijau dari birokrasi internalnya sendiri. Intinya, negosiasi untuk stok hingga akhir 2025 mentok.
Nah, akar penolakan ini ternyata ada di kandungan etanol. Base fuel yang ditawarkan ternyata mengandung sekitar 3,5 persen etanol, yang dianggap kurang memenuhi spesifikasi teknis mereka.
"Ini kondisi yang membuat SPBU swasta untuk tidak melanjutkan pembelian karena ada konten etanol. Di mana konten itu sebetulnya masih dalam batas ambang yang diperkenankan pemerintah," jelas Achmad.
Setelah bolak-balik, akhirnya ada titik terang. Pertamina dan SPBU swasta sepakat: pasokan harus benar-benar base fuel murni, tanpa campuran etanol atau bahan lain. Kesepakatan ini yang akhirnya membuka keran pasokan.
Pertamina pun mulai mendistribusikan base fuel ke jaringan BP, Vivo, dan Shell. Hingga awal Desember 2025, total yang dikirim mencapai 430 ribu barel, cukup untuk memenuhi stok mereka sampai tutup tahun.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan komitmen perusahaan. Suplai ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga menjaga stabilitas energi nasional.
"Pertamina Patra Niaga tidak hanya siap memenuhi kebutuhan BBM untuk jaringan SPBU Pertamina, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi operator SPBU swasta," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (5/12/2025).
Begitulah lika-likunya. Dari penolakan kuota impor, negosiasi alot, sampai akhirnya ketemu solusi di menit-menit akhir. Semoga stoknya aman sampai tahun baru.
Artikel Terkait
BRI Salurkan KUR Rp178,8 Triliun dan KPR Subsidi Rp16,6 Triliun Sepanjang 2025
Pemerintah Perpanjang Tenor Dana SAL hingga 2026, BRI Sambut Positif
TikTokers Gowa Didenda Rp1 Miliar Gara-gara Siarkan Langsung BYON Combat Ilegal
John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang, Meninggal Dunia di Yogyakarta