Presiden Prabowo Duduk Satu Bangku dengan ART dan Pedagang Seblak di Serah Terima KPR

- Minggu, 21 Desember 2025 | 01:30 WIB
Presiden Prabowo Duduk Satu Bangku dengan ART dan Pedagang Seblak di Serah Terima KPR

Di Serang, Banten, Sabtu lalu, suasana terasa berbeda. Presiden Prabowo Subianto hadir dalam acara akad massal KPR FLPP untuk lebih dari 50 ribu penerima. Tapi yang menarik perhatian justru siapa yang duduk di sebelahnya.

Bukan pejabat tinggi atau pengusaha. Presiden justru duduk berdampingan dengan Ayu, seorang asisten rumah tangga, dan Fauzi Nurdian, seorang pedagang seblak. Mereka adalah dua dari puluhan ribu orang yang hari itu menerima kunci rumah subsidi. Posisi duduk itu bukan kebetulan. Menurut sejumlah saksi, momen itu terasa seperti simbol nyata negara hadir dan berpihak pada warga kecil.

“Jadi sekarang, hari ini saya merasa gembira, walaupun saya sadar perjalanan masih jauh, cita-cita kita masih jauh. 29 juta rakyat kita masih belum punya rumah.”

Ucap Prabowo di hadapan ribuan orang.

“Jadi Pak Ara kerja keras, semua menteri kita kompak, kita cari jalannya. Kalau ada kehendak, pasti ada jalan,” tambahnya.

Acara itu sekaligus menegaskan, program perumahan ini benar-benar menyasar mereka yang kerap kesulitan. Bayangkan, seorang penjual seblak atau ART dengan penghasilan pas-pasan, akhirnya bisa punya rumah sendiri. Itu pesan yang kuat.

Di sisi lain, Menteri Perumahan Rakyat Maruarar Sirait atau yang akrab disapa Ara, juga menyampaikan apresiasinya. Dia terlihat tersentuh oleh semangat masyarakat yang pantang menyerah.

“Mungkin kita dulu nggak kebayang, Pak. ART bisa punya rumah, Pak. Dari gajinya, Pak.”

Kata Ara dengan nada haru.

“Hari ini Bapak membuat itu menjadi mungkin dan terjadi. ART bisa punya rumah sendiri. Atas namanya sendiri. Saya pikir ini Indonesia yang mau kita capai, Pak. Indonesia yang berkeadilan.”

Momen Sabtu itu, di tengah terik Banten, mungkin hanya satu titik dalam perjalanan panjang. Namun bagi Ayu, Fauzi, dan puluhan ribu lainnya, itu adalah awal dari sebuah kepastian. Sebuah rumah. Dan bagi banyak yang menyaksikan, itu adalah pengingat sederhana tentang untuk siapa seharusnya kebijakan itu dibuat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar