Menurut Aditya, di sinilah produsen yang sudah punya sertifikasi keberlanjutan seperti RSPO akan unggul. Kepatuhan terhadap EUDR bukan sekadar formalitas, melainkan penentu utama akses. Mereka yang sudah siap punya peluang lebih besar, risiko penolakan barang lebih rendah, dan bahkan berpotensi mendapat harga premium di sana.
Di sisi lain, kondisi produksi domestik juga perlu jadi pertimbangan. Cuaca yang kurang bersahabat pada 2024 lalu membuat produksi menurun. Imbasnya, volume ekspor tahun ini diperkirakan cuma sekitar 24 juta ton, lebih rendah dari rata-rata historis yang bisa mencapai 27-30 juta ton.
Justru dalam situasi seperti inilah, pembukaan akses ke Eropa menjadi sangat strategis. Ia bisa menjadi penyeimbang di tengah fluktuasi permintaan dari pasar utama di Asia.
"Pembukaan akses pasar menuju Uni Eropa serta penurunan tarif impor di India membuka ruang ekspansi permintaan ekspor dalam jangka menengah," pungkas Aditya.
Jadi, meski tantangan regulasi menghadang, masa depan ekspor sawit Indonesia tampaknya sedang menuju ke arah yang lebih beragam. Semua kembali pada kesiapan industri dalam memenuhi standar permainan global yang semakin tinggi.
Artikel Terkait
Changan Deepal S07 Resmi Meluncur, Siap Goyang Dominasi BYD Sealion 7
Menperin Genjot Desain Chip dan SDM untuk Jawab Lonjakan Impor Semikonduktor
Catherine OHara, Ibu di Home Alone, Tutup Usia di Los Angeles
ANTAM Gandeng Raksasa China Garap Mega Proyek Baterai Listrik 20 GWh