Penandatanganan perjanjian dagang komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) bakal mengubah peta ekspor minyak sawit kita. Tak lagi bertumpu pada dua raksasa Asia, peluang untuk mendiversifikasi pasar kini terbuka lebar. Uni Eropa sendiri bukan pasar sembarangan; mereka adalah importir CPO terbesar ketiga di dunia, dengan kebutuhan tahunan mencapai 6 hingga 7 juta ton. Angka yang sangat menggiurkan.
Selama ini, kita tahu, India dan China adalah tulang punggung ekspor sawit Indonesia. Keduanya menyerap sekitar sepertiga dari total ekspor nasional. Namun begitu, ada angin segar dari India yang baru saja menurunkan tarif impor kelapa sawit menjadi 10 persen. Ini tentu kabar baik.
Aditya Prayoga, Research Analyst Phintraco Sekuritas, melihat momen ini sebagai peluang emas.
"Diversifikasi peluang ekspor ke Eropa ini turut diperkuat oleh penurunan tarif impor kelapa sawit oleh India," jelasnya dalam Sector Update, Kamis lalu.
Tapi, jalan menuju pasar Eropa tidaklah mulus. Ada satu tantangan besar bernama Environmental Deforestation Regulation (EUDR). Aturan ketat ini mewajibkan verifikasi jejak lahan dan bukti bahwa produk yang masuk sama sekali tidak terkait dengan praktik deforestasi. Bisa dibilang, ini adalah pintu gerbang yang harus dilewati.
Artikel Terkait
Changan Deepal S07 Resmi Meluncur, Siap Goyang Dominasi BYD Sealion 7
Menperin Genjot Desain Chip dan SDM untuk Jawab Lonjakan Impor Semikonduktor
Catherine OHara, Ibu di Home Alone, Tutup Usia di Los Angeles
ANTAM Gandeng Raksasa China Garap Mega Proyek Baterai Listrik 20 GWh