PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) akhirnya mengukuhkan kerja samanya. Perusahaan pelat merah ini membentuk konsorsium dengan sebuah perusahaan asal China, dengan tujuan ambisius: membangun ekosistem baterai untuk mobil listrik dari hulu ke hilir.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengakui bahwa pengembangan industri strategis semacam ini masih perlu sokongan dari mitra luar. Menurutnya, dukungan itu terutama dibutuhkan dalam hal transfer teknologi, perluasan akses pasar, dan tentu saja, pengelolaan yang lebih profesional.
Di sisi lain, Bahlil tak lupa menegaskan komitmen pemerintah. "Saya ulangi, arahan Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara," tegasnya.
Pernyataan itu disampaikan di Kantor Kementerian ESDM, Jumat lalu, 30 Januari 2026.
Skala proyeknya memang tak main-main. Kapasitas produksi baterai listrik yang ditargetkan mencapai 20 Giga Watt hour (GWh). Angka itu bukan sekadar angka jika terwujud, ekosistem ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia. Nilai investasinya pun fantastis, diperkirakan menyentuh USD 6 miliar. Dampaknya? Sekitar 10 ribu lapangan kerja baru bisa tercipta. Rincian lebih lanjut, tentu saja, masih menunggu hasil studi kelayakan yang sedang digodok.
Yang menarik, proyek ini cakupannya lebih luas dari sekadar mobil listrik. Bahlil menjelaskan bahwa desainnya juga menyasar kebutuhan baterai untuk pembangkit listrik hijau, termasuk program PLTS 100 GW yang dicanangkan pemerintah.
"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya," katanya.
Kolaborasi ini melibatkan nama-nama besar. Di satu sisi ada investor global asal China, Huayou dan EVE Energy. Di sisi lain, perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL turut serta. Harapannya jelas: transfer teknologi bisa berjalan lancar, sehingga perusahaan dalam negeri nantinya benar-benar bisa mandiri dan menjadi 'tuan rumah' di negeri sendiri.
Tak hanya itu, Bahlil juga menekankan peran penting perusahaan daerah. Ekosistem baterai ini rencananya akan melibatkan pihak-pihak setempat, misalnya mitra di Jawa Barat. Sementara untuk pengembangan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi, lokasinya diproyeksikan di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
Optimisme itu terasa dalam penutup pernyataannya. "Jadi kita, InsyaAllah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan," ujar Bahlil penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun