Yang menarik, proyek ini cakupannya lebih luas dari sekadar mobil listrik. Bahlil menjelaskan bahwa desainnya juga menyasar kebutuhan baterai untuk pembangkit listrik hijau, termasuk program PLTS 100 GW yang dicanangkan pemerintah.
"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya," katanya.
Kolaborasi ini melibatkan nama-nama besar. Di satu sisi ada investor global asal China, Huayou dan EVE Energy. Di sisi lain, perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL turut serta. Harapannya jelas: transfer teknologi bisa berjalan lancar, sehingga perusahaan dalam negeri nantinya benar-benar bisa mandiri dan menjadi 'tuan rumah' di negeri sendiri.
Tak hanya itu, Bahlil juga menekankan peran penting perusahaan daerah. Ekosistem baterai ini rencananya akan melibatkan pihak-pihak setempat, misalnya mitra di Jawa Barat. Sementara untuk pengembangan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi, lokasinya diproyeksikan di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
Optimisme itu terasa dalam penutup pernyataannya. "Jadi kita, InsyaAllah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan," ujar Bahlil penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Sistem One Way di Tol Cikatama Picu Kemacetan di Arteri Cirebon
Saham Samsung Electronics Melonjak 5% Didorong Isyarat Kerja Sama dengan Nvidia
Kapolri dan Ketua Komisi IV DPR Tinjau Rehabilitasi Habitat Gajah Sumatera di Tesso Nilo
Korlantas Polri Terapkan Sistem Satu Arah Sepenggal di Tol Trans Jawa untuk Antisipasi Macet Mudik