Yang menarik, proyek ini cakupannya lebih luas dari sekadar mobil listrik. Bahlil menjelaskan bahwa desainnya juga menyasar kebutuhan baterai untuk pembangkit listrik hijau, termasuk program PLTS 100 GW yang dicanangkan pemerintah.
"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya," katanya.
Kolaborasi ini melibatkan nama-nama besar. Di satu sisi ada investor global asal China, Huayou dan EVE Energy. Di sisi lain, perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL turut serta. Harapannya jelas: transfer teknologi bisa berjalan lancar, sehingga perusahaan dalam negeri nantinya benar-benar bisa mandiri dan menjadi 'tuan rumah' di negeri sendiri.
Tak hanya itu, Bahlil juga menekankan peran penting perusahaan daerah. Ekosistem baterai ini rencananya akan melibatkan pihak-pihak setempat, misalnya mitra di Jawa Barat. Sementara untuk pengembangan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi, lokasinya diproyeksikan di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
Optimisme itu terasa dalam penutup pernyataannya. "Jadi kita, InsyaAllah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan," ujar Bahlil penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Ammar Zoni Protes Penempatan di Nusakambangan: Saya Bukan Penjahat Besar
No Na Rilis Work (+62), Video Musik yang Sorot Kekuatan Fisik dan Tarian
Banjir Longsor Cisarua, BRI Bergerak Cepat Bantu Korban dan Trauma Healing
Tiga Puluh RT di Jakarta Masih Terendam, Warga Terpaksa Mengungsi