Pelukan Haru di Tengah Banjir Aceh Tamiang: Kisah Reuni Ayah dan Anak yang Singkap Krisis Pangan

- Jumat, 05 Desember 2025 | 16:50 WIB
Pelukan Haru di Tengah Banjir Aceh Tamiang: Kisah Reuni Ayah dan Anak yang Singkap Krisis Pangan

Di tengah genangan air dan lumpur yang melanda Kuala Simpang, sebuah video pendek tiba-tiba menyita perhatian. Rekaman itu menangkap pertemuan yang tak terduga antara seorang ayah dan anaknya, di sebuah jalan yang nyaris tak bisa dikenali lagi. Mereka berpelukan erat, setelah terpisah oleh amukan banjir bandang dan tanah longsor. Adegan haru itu pun dengan cepat menyebar di linimasa media sosial.

Video yang pertama kali diunggah akun @medanhits.tv itu diawali dari sudut pandang sang anak yang sedang menyusuri jalan rusak. Lalu, tiba-tiba saja, matanya menangkap sosok familiar berjalan kaki di depan. Seorang pria paruh baya dengan karung di pundak. Tanpa pikir panjang, ia menghentikan kendaraannya dan teriak memanggil, “Bapak-bapak!”

Sang ayah menoleh. Wajahnya yang lelah seketika berubah. Mereka pun bergegas merangkul satu sama lain, di tengah jalan yang dikepung air. Pelukan itu bicara banyak tentang rasa rindu, kelegaan, dan ketakutan yang akhirnya menemukan pelampiasan.

Namun begitu, di balik momen mengharukan yang bikin banyak netizen ikut menangis itu, ada realitas getir yang tersimpan. Pertemuan itu terjadi bukan dalam situasi biasa, melainkan ketika Aceh Tamiang sedang terpuruk. Statusnya kritis, terisolasi total.

Jalan utama putus. Distribusi bantuan mandek. Ribuan warga, termasuk keluarga dalam video itu, mulai kelaparan. Karung beras yang dibawa sang ayah dalam video bukan sekadar properti. Itu adalah hasil perjuangannya mencari makanan, menempuh rute berbahaya hanya untuk bisa menyambung hidup keluarganya.

Faktanya, banjir ini sudah berhari-hari merendam permukiman. Warga terjebak, akses logistik lumpuh total. Krisis pangan mengintai di banyak titik pengungsian. Momen pertemuan tadi, meski indah, justru menjadi pengingat pilih betapa mendesaknya pemulihan akses jalan. Pemerintah dituntut bergerak cepat, sebelum keadaan bertambah runyam.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar