Banjir bandang yang menerjang Batang Toru, Tapanuli Selatan, tak hanya membawa air. Gelondongan kayu dalam jumlah besar ikut hanyut deras, menambah kerusakan dan memantik pertanyaan serius. Kawasan ini pun langsung menjadi prioritas utama penanganan pascabencana.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan alasannya. Bentang alam daerah itu terbilang unik, berbentuk seperti huruf 'V'.
"Semua air akhirnya mengalir ke tengah, dan di situlah permukiman warga berada," jelasnya usai rapat dengan Komisi XIII DPR RI di Jakarta, Rabu lalu.
Menurutnya, peta satelit menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Bagian hulu Batang Toru seharusnya berupa hutan. Kenyataannya? Fungsi kawasan itu sudah berganti menjadi lahan pertanian.
"Padahal lokasinya di puncak. Begitu bencana datang, ya begini jadinya," ucap Hanif.
Tak cuma itu, ada indikasi lain yang memperparah keadaan. Pembukaan lahan untuk kebun sawit diduga menyebabkan penebangan popon di area hulu. Nah, karena ada kebijakan zero burning, kayu-kayu tebangan itu tidak dibakar. Mereka hanya ditumpuk begitu saja di pinggiran lahan.
Artikel Terkait
Cinta Tak Tergenang Banjir: Pengantin Digendong Menuju Pelaminan
Musk Tuntut OpenAI dan Microsoft Rp2.000 Triliun, Klaim Dukung Saat Masih Seumur Jagung
Puncak Arus Balik Libur Isra Mikraj Diprediksi Capai 197 Ribu Kendaraan
Geliat Industri 2026: 1.236 Pabrik Baru Siap Serap 218 Ribu Pekerja