Batang Toru Dibanjiri Kayu: Dampak Nyata Alih Fungsi Lahan di Hulu

- Rabu, 03 Desember 2025 | 16:25 WIB
Batang Toru Dibanjiri Kayu: Dampak Nyata Alih Fungsi Lahan di Hulu

Banjir bandang yang menerjang Batang Toru, Tapanuli Selatan, tak hanya membawa air. Gelondongan kayu dalam jumlah besar ikut hanyut deras, menambah kerusakan dan memantik pertanyaan serius. Kawasan ini pun langsung menjadi prioritas utama penanganan pascabencana.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan alasannya. Bentang alam daerah itu terbilang unik, berbentuk seperti huruf 'V'.

"Semua air akhirnya mengalir ke tengah, dan di situlah permukiman warga berada," jelasnya usai rapat dengan Komisi XIII DPR RI di Jakarta, Rabu lalu.

Menurutnya, peta satelit menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Bagian hulu Batang Toru seharusnya berupa hutan. Kenyataannya? Fungsi kawasan itu sudah berganti menjadi lahan pertanian.

"Padahal lokasinya di puncak. Begitu bencana datang, ya begini jadinya," ucap Hanif.

Tak cuma itu, ada indikasi lain yang memperparah keadaan. Pembukaan lahan untuk kebun sawit diduga menyebabkan penebangan popon di area hulu. Nah, karena ada kebijakan zero burning, kayu-kayu tebangan itu tidak dibakar. Mereka hanya ditumpuk begitu saja di pinggiran lahan.

"Banjir yang besar akhirnya mendorong tumpukan kayu itu," tuturnya. "Hasilnya, bencana jadi berlipat ganda."

Di sisi lain, alam memang sedang tak bersahabat. Fenomena hidrometeorologi memperkuat dampak bencana. Curah hujan ekstrem mengguyur wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dengan volume air yang sulit dibayangkan.

Hanif memberi gambaran nyata. "Di Aceh saja, dalam dua hari hujan intensitas tinggi membawa 9,7 miliar meter kubik air jatuh dari langit," katanya.

Dengan debit sebanyak itu, jangankan menyerap, menahan saja mungkin sudah tidak mampu. Kondisi diperburuk karena bentang alam di banyak tempat sudah jauh berubah, tidak lagi sesuai dengan daya dukungnya.

"Landscape-nya sudah banyak yang tidak memenuhi daya tampung," pungkas Hanif. Situasi ini jadi peringatan keras tentang bagaimana intervensi pada alam bisa memicu konsekuensi yang tak terduga.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar