Harga Pakan Ternak Mulai Turun, Peternak Unggas Dapat Angin Segar

- Jumat, 06 Maret 2026 | 11:45 WIB
Harga Pakan Ternak Mulai Turun, Peternak Unggas Dapat Angin Segar

Jakarta – Ada angin segar buat para peternak unggas. Harga pakan ternak, yang jadi beban operasional terbesar, mulai menunjukkan tren penurunan sejak Februari lalu. Hal ini diungkap oleh Kementerian Pertanian sebagai upaya menjaga stabilitas di sektor peternakan nasional.

Memang, penurunan ini belum seragam di semua produsen. Tapi, pergerakan harga ke bawah ini tentu disambut baik. Bagi peternak ayam pedaging atau petelur, sedikit penurunan harga pakan bisa sangat berarti untuk menekan biaya produksi yang selama ini membelit.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, melihat ini sebagai sinyal positif.

"Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena akan membantu menurunkan biaya produksi," ujarnya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurut Agung, efisiensi di level hulu ini penting agar harga telur dan daging ayam di tingkat konsumen juga bisa tetap stabil, tidak melonjak tak terkendali.

Rincian Penurunan

Data dari Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Kementan mencatat, penurunan paling signifikan terjadi pada pakan untuk ayam pedaging fase starter. Harganya turun rata-rata Rp112 per kilogram. Bahkan, beberapa produsen ada yang memotong harga hingga Rp600 per kg. Sekarang, rata-ratanya berkisar di angka Rp8.010 per kilogram.

Jenis pakan lain juga ikut turun, meski angkanya bervariasi. Pakan broiler fase pre-starter (BR0) turun Rp82, finisher (BR2) turun Rp89. Sementara untuk ayam petelur, pakan masa produksi (P3) turun Rp86 dan konsentratnya (KP3) turun Rp74.

Namun begitu, fakta di lapangan menunjukkan belum semua produsen ikut menyesuaikan. Dari 87 pabrik pakan unggas di Indonesia, baru sekitar 33 pabrik atau 38 persen yang benar-benar menurunkan harga jualnya.

Fokus ke Bahan Baku Lokal

Di balik penurunan ini, ada upaya efisiensi dari industri. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah.

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif," tutur Desianto.

Upaya ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang fokus pada penguatan produksi jagung lokal. Visinya jelas: swasembada. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Amran menyebut Indonesia sudah berhenti impor jagung pakan dan malah mulai mengekspor ke negara seperti Malaysia dan Filipina.

Strategi penguatan hulu ini merupakan bagian dari langkah besar pemerintah untuk menekan harga pangan. Tujuannya, peternak bisa bernapas lega dan pasokan protein hewani dalam negeri tetap terjaga. Perkembangannya patut ditunggu.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar