Di sisi lain, pihak rumah sakit yang menampung jenazah-jenazah itu mengeluarkan imbauan mendesak. Kompol Hari Andromeda, Kepala RS Bhayangkara TK III Padang, menegaskan bahwa peran masyarakat sangat krusial.
"Kami mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk segera datang ke posko antemortem di sini," ujar Hari.
"Semakin cepat data pembanding masuk, semakin cepat pula identifikasi dapat kami selesaikan."
Permasalahannya ternyata cukup menyentuh. Menurut penjelasan dari pihak berwenang, banyak dari jenazah yang belum dikenali itu adalah anak-anak. Situasinya jadi semakin sulit karena diduga, orang tua mereka mungkin juga menjadi korban. Alhasil, tak ada yang datang melapor untuk memberikan data pembanding. Proses pun terhambat.
Untuk mengatasi kendala teknis, sebuah bantuan datang. Dinas Pertanian Sumbar meminjamkan satu unit mobil cold storage ke rumah sakit. Kehadiran fasilitas pendingin ini sangat berarti. Ia membantu menjaga kondisi jenazah selama proses forensik yang memakan waktu berjalan, memberi tim lebih banyak ruang untuk bekerja dengan teliti.
Laporan dari Padang menunjukkan upaya yang tak kenal lelah, meski dihimpit duka. Proses identifikasi terus berlanjut, sambil berharap data dari keluarga segera melengkapi puzzle yang menyedihkan ini.
Artikel Terkait
Lebaran 2026: Lebih dari Setengah Tiket Kereta Jarak Jauh dari Jakarta Telah Terjual
Pemerintah Batasi Truk 13-29 Maret 2026 untuk Antisipasi Macet Mudik Lebaran
Lebih dari 14 Ribu Jamaah Umrah Indonesia Dipulangkan Imbas Ketegangan di Timur Tengah
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen