Anak yang kurang gizi berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ini sering kita dengar dengan istilah stunting. Nah, di Kudus, ada upaya menarik untuk mengatasi persoalan ini lewat sebuah inovasi camilan.
Fariza Yulia Kartika Sari, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Kudus, mengembangkan yogurt spesial. Uniknya, bahan bakunya memanfaatkan dua komoditas lokal: umbi jangklong dan buah parijoto. Keduanya memang tumbuh khas di sekitar Gunung Muria.
Menurut Fariza, camilan hasil inovasinya ini punya peluang besar jadi pilihan sehat untuk anak-anak stunting. Alasannya sederhana, kedua bahan utama itu kandungan gizinya tinggi.
"Umbi jangklong dan buah parijoto kaya inulin (prebiotik) dan antosianin (antioksidan)," katanya.
Dia menjelaskan, jangklong dikenal sebagai sumber vitamin B. Sementara parijoto, buah kecil berwarna ungu itu, sejak lama dipercaya bisa menjaga daya tahan tubuh. Kombinasi keduanya dalam yogurt diharapkan tak cuma jadi camilan enak.
Di sisi lain, produk ini dinilai bisa menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Artinya, perkembangan bakteri baik akan terdorong. Tubuh juga lebih terlindungi dari efek stres oksidatif.
Fariza menambahkan, ada nilai plus lainnya.
"Nilai tambah dari yogurt lokal dari Kudus ini aman bagi mereka yang intoleransi pada laktosa, dan bernilai ekonomi tinggi," tambahnya.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar