Anak yang kurang gizi berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ini sering kita dengar dengan istilah stunting. Nah, di Kudus, ada upaya menarik untuk mengatasi persoalan ini lewat sebuah inovasi camilan.
Fariza Yulia Kartika Sari, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Kudus, mengembangkan yogurt spesial. Uniknya, bahan bakunya memanfaatkan dua komoditas lokal: umbi jangklong dan buah parijoto. Keduanya memang tumbuh khas di sekitar Gunung Muria.
Menurut Fariza, camilan hasil inovasinya ini punya peluang besar jadi pilihan sehat untuk anak-anak stunting. Alasannya sederhana, kedua bahan utama itu kandungan gizinya tinggi.
"Umbi jangklong dan buah parijoto kaya inulin (prebiotik) dan antosianin (antioksidan)," katanya.
Dia menjelaskan, jangklong dikenal sebagai sumber vitamin B. Sementara parijoto, buah kecil berwarna ungu itu, sejak lama dipercaya bisa menjaga daya tahan tubuh. Kombinasi keduanya dalam yogurt diharapkan tak cuma jadi camilan enak.
Di sisi lain, produk ini dinilai bisa menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Artinya, perkembangan bakteri baik akan terdorong. Tubuh juga lebih terlindungi dari efek stres oksidatif.
Fariza menambahkan, ada nilai plus lainnya.
"Nilai tambah dari yogurt lokal dari Kudus ini aman bagi mereka yang intoleransi pada laktosa, dan bernilai ekonomi tinggi," tambahnya.
Lalu, bagaimana proses pembuatannya? Fariza memaparkan langkah-langkahnya. Pertama, susu segar, gula pasir, dan tepung jangklong dicampur rata. Campuran ini lalu dipanaskan sampai 90 derajat Celsius, kira-kira lima menit, untuk sterilisasi.
Setelah itu, adonan didinginkan dulu. Baru saat suhunya turun ke kisaran 43-45 derajat, starter bakteri asam laktat dimasukkan.
Proses selanjutnya butuh kesabaran. Adonan disimpan dalam kondisi hangat, antara 37 hingga 42 derajat, selama 8 sampai 10 jam. Di tahap inilah fermentasi terjadi, sampai keasaman mencapai pH 4,6. Sebagai sentuhan akhir, ekstrak buah parijoto baru ditambahkan untuk rasa dan manfaat ekstra.
Jadi, simpul Fariza, yogurt jangklong-parijoto ini adalah produk sinbiotik yang bergizi dan ekonomis. Lagipula, sudah sesuai Standar Nasional Indonesia.
"Produk ini berpotensi menjadi camilan sehat bagi anak stunting," pungkasnya.
Inovasi yang cukup menjanjikan, bukan? Memanfaatkan kekayaan lokal untuk menjawab masalah kesehatan yang nyata.
Reporter Salsha Okta Fairuz
Artikel Terkait
Roblox Bersiap Patuhi Aturan, Batas Usia Pengguna Minimal 16 Tahun
BSN Perkuat Layanan SiPA untuk Dongkrak Likuiditas dan Daya Saing Keuangan Syariah
Prajurit Prancis UNIFIL Gugur di Lebanon Selatan Usai Serangan April Lalu
Prabowo dan Albanese Sepakati Ekspor Pupuk Urea 250.000 Ton ke Australia