Morowali Guncang Pasar: Investasi Rp1,66 Triliun Ubah Nasib Petani Kelapa

- Rabu, 03 Desember 2025 | 01:45 WIB
Morowali Guncang Pasar: Investasi Rp1,66 Triliun Ubah Nasib Petani Kelapa

Proyek hilirisasi kelapa di Morowali akhirnya menemukan momentumnya. Setelah sekian lama dibicarakan, investor asal China resmi mengucurkan modal untuk membangun pabrik pengolahan di sana. Menurut keterangan Kementerian Investasi dan Hilirisasi, nilai investasinya mencapai USD100 juta.

Atau, kalau dirupiahkan dengan kurs JISDOR BI per 2 Desember 2025, angkanya sekitar Rp1,66 triliun. Nilai yang fantastis.

Menteri Rosan Perkasa Roeslani yang menyampaikan kabar ini di hadapan Komisi XII DPR RI, Selasa lalu. Dia tak cuma bicara soal uang.

"Investasi yang masuk kurang lebih USD100 juta, tetapi penciptaan lapangan pekerjaannya ini mencapai 10.000 orang," ujar Rosan.

Itu dampak yang sangat signifikan untuk daerah. Pabriknya sendiri ditargetkan beroperasi pertengahan 2026 nanti. Kalau sudah jalan, kapasitas olahnya bisa mencengangkan: hingga 500 juta butir kelapa per tahun. Bayangkan.

Ceritanya, sebelum ada rencana ini, kondisi kita miris. Sebagian besar kelapa Indonesia diekspor mentah-mentah ke China. Nilai tambahnya dinikmati di sana, petani kita cuma dapat harga bahan baku. Situasi itu yang coba diubah pemerintah.

Caranya? Dengan pendekatan langsung. Mereka terbang ke China, bertemu investor, dan meyakinkan mereka.

"Dan karena sebab itu kita terbang ke sana, meyakinkan mereka untuk membuka pabriknya di sini," tutur Rosan soal langkah diplomasi ekonomi itu. Intinya, pengolahannya harus dibangun di dalam negeri.

Kehadiran pabrik di Morowali jelas mengubah banyak hal. Rantai logistik yang dulu panjang dan mahal, kini memendek. Efeknya langsung terasa di tingkat petani.

Rosan memastikan, hilirisasi kelapa tak berhenti di Morowali. Rencananya, proyek serupa akan dibangun di Riau dan beberapa titik lain di Sulawesi Tengah.

"Sehingga harga kelapanya juga makin meningkat di sini karena mereka tidak lagi perlu memperhitungkan biaya logistik pengiriman kelapa dari Indonesia ke China," jelasnya.

Harapannya jelas: kesejahteraan petani naik, industri dalam negeri tumbuh. Semoga target operasi 2026 benar-benar terwujud.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar