Caranya? Dengan pendekatan langsung. Mereka terbang ke China, bertemu investor, dan meyakinkan mereka.
"Dan karena sebab itu kita terbang ke sana, meyakinkan mereka untuk membuka pabriknya di sini," tutur Rosan soal langkah diplomasi ekonomi itu. Intinya, pengolahannya harus dibangun di dalam negeri.
Kehadiran pabrik di Morowali jelas mengubah banyak hal. Rantai logistik yang dulu panjang dan mahal, kini memendek. Efeknya langsung terasa di tingkat petani.
Rosan memastikan, hilirisasi kelapa tak berhenti di Morowali. Rencananya, proyek serupa akan dibangun di Riau dan beberapa titik lain di Sulawesi Tengah.
"Sehingga harga kelapanya juga makin meningkat di sini karena mereka tidak lagi perlu memperhitungkan biaya logistik pengiriman kelapa dari Indonesia ke China," jelasnya.
Harapannya jelas: kesejahteraan petani naik, industri dalam negeri tumbuh. Semoga target operasi 2026 benar-benar terwujud.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar