“Banyak SDM digunakan. Tukang sapu pakai caping nyapu, pakai sapu besar nyapu jalanan,” tuturnya menggambarkan pemandangan yang mungkin sudah jarang terlihat di tempat lain.
Narasi ini mendapat konteks yang lebih luas dari sebuah diskusi internal. Sumber tersebut mengaku pernah berdiskusi dengan salah seorang direktur operasional di IMIP. Dari pembicaraan itu, terungkap ada semacam komitmen yang lebih besar.
“Beliau sampaikan bahwa mereka punya komitmen dengan pemerintah China untuk membawa SDM,” jelasnya.
Komitmen itu rupanya bagian dari skema penyerapan tenaga kerja. Tujuannya untuk menampung warga China yang sebenarnya produktif, tapi belum terserap lapangan kerja di negaranya sendiri. Kebijakannya bahkan bersifat wajib bagi pengusaha China di luar negeri.
“Jadi semua pengusaha China di seluruh dunia diwajibkan pekerjakan para warga negara sampai level paling bawah,” pungkasnya.
Cerita ini bukan cuma soal angka gaji yang tinggi. Tapi juga membuka tabir tentang dinamika ketenagakerjaan, komitmen bisnis, dan strategi yang berlapis di balik operasional sebuah kawasan industri raksasa.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar