Kopi dan Pinus di Jayagiri: Kisah Harmoni yang Tumbuh di Bawah Rindang

- Minggu, 30 November 2025 | 20:06 WIB
Kopi dan Pinus di Jayagiri: Kisah Harmoni yang Tumbuh di Bawah Rindang

Menyusuri jalur Jayagiri menuju Tangkuban Perahu itu seperti memasuki panggung teater alam. Pinus-pinus tinggi berdiri anggun, meniupkan aroma getah lembut ke udara seolah menyapa setiap pendaki. Sinar matahari menetes pelan di antara dahan, menciptakan permainan bayangan yang memesona. Lalu, di sela rimbunnya pepohonan, barisan tanaman kopi muncul bak tamu tak terduga yang memilih berteduh di bawah naungan pinus. Kehadirannya jadi kejutan. Ternyata, hutan menyimpan rahasia persahabatan yang jarang terungkap.

Fenomena kopi yang tumbuh manis di bawah pinus ini laksana dua sahabat yang saling melengkapi. Banyak pendaki pemula yang lewat langsung berhenti, heran, lalu tersenyum tak percaya. Siapa sangka tanaman kopi bisa betah di bawah naungan pinus yang begitu tegas? Tapi nyatanya, mereka membentuk duet agroforestri yang harmonis. Sebuah simbiosis yang mencerminkan betapa bijaksananya alam mengatur segalanya. Di sini, alam bukan museum mati, melainkan ruang negosiasi hidup tempat manusia belajar: bertani bisa ramah hutan tanpa mengorbankan ekonomi.

Tapi harmoni ini tak lahir begitu saja. Selama bertahun-tahun, pengelolaan hutan sering dipandang sebagai urusan eksklusif lembaga tertentu. Masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan malah kerap dianggap hanya penonton. Padahal, seperti dijelaskan Ostrom dalam Governing the Commons (2015), konservasi akan berhasil jika masyarakat dilibatkan sebagai aktor utama. Mengabaikan peran mereka justru membuka peluang praktik tak ramah lingkungan yang merusak hutan itu sendiri.

Di Jayagiri, Perhutani mencoba membalik paradigma itu. Lewat skema bagi hasil kopi, masyarakat tak lagi dilihat sebagai “pengganggu”, melainkan mitra sejati dalam merawat hutan.

Bu Siti, salah satu pengelola, menceritakannya dengan mata berbinar. Bibit dan pupupk ia terima dari Perhutani, sementara ia dan warga merawat tanaman itu penuh hati-hati, seperti merawat keluarga sendiri. Saat panen tiba, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan.

“Kepercayaan itu modal terbesar,” ujarnya. Baginya, hutan bukan cuma soal pohon, tapi juga tentang hubungan antar manusia.

Dan hasilnya nyata. Di lahan tiga hektar yang dikelola Bu Siti dan suaminya, Pak Asep, mereka bisa memanen hingga delapan ton kopi basah. Harganya berkisar Rp14–15 ribu per kilo untuk kopi basah, dan melonjak jadi sekitar Rp100 ribu per kilo setelah dikeringkan. Angka-angka itu bukan cuma statistik. Itu adalah denyut harapan yang memompa semangat warga untuk terus menjaga hutan. Ekonomi berdenyut, ekologi terjaga. Dua mimpi yang dulu kerap dianggap mustahil, kini berjalan beriringan.


Halaman:

Komentar