Kopi dan Pinus di Jayagiri: Kisah Harmoni yang Tumbuh di Bawah Rindang

- Minggu, 30 November 2025 | 20:06 WIB
Kopi dan Pinus di Jayagiri: Kisah Harmoni yang Tumbuh di Bawah Rindang

Secara ilmiah, hubungan kopi dan pinus ini bukan kebetulan. Hairiah dalam Agroforestry untuk Ketahanan Lingkungan (2020) menjelaskan bahwa kopi memang menyukai cahaya sedang, bukan terik matahari langsung. Pinus, dengan kanopinya yang stabil, memberikan naungan ideal sekaligus menjaga kelembapan tanah dan menekan gulma secara alami. Sistem ini memperkuat ekosistem tanpa butuh banyak campur tangan manusia. Kombinasi keduanya adalah wujud kecerdasan ekologis yang sudah lama dipraktikkan masyarakat adat Nusantara.

Teori ekologi hutan juga mendukung hal ini. Muñoz dalam Forest Ecological Dynamics (2019) menegaskan bahwa keragaman vegetasi justru memperkuat stabilitas ekosistem. Kopi yang tumbuh di bawah pinus bukan sekadar “penumpang”. Ia adalah aktor penting yang menahan erosi dengan akar-akarnya, menjaga struktur tanah agar tetap kokoh. Saat hujan turun dan tanah rentan hanyut, akar kopi itu seperti memeluk bumi dan berkata, “Tetaplah di sini.” Personifikasi kecil yang tepat menggambarkan perannya dalam menjaga integritas hutan Jayagiri.

Sepanjang perjalanan, pendaki tak cuma dimanjakan pemandangan. Hutan juga mempersembahkan orkestra suara yang menenangkan. Kicau burung kacer, kapas tembak, sikatan gunung, pentet, dan kutilang saling bersahutan. Dari balik pepohonan, tonggeret meniup terompet halusnya sebagai pengiring setia. Kurniawan dalam Ekologi Suara Satwa Hutan (2022) menyebutkan, ragam suara satwa adalah penanda ekosistem yang sehat. Setiap kicau yang terdengar seolah membisikkan pesan, “Kami masih hidup, karena hutan ini benar-benar dijaga.”

Namun, keindahan ini tak lepas dari ancaman. Lonjakan wisata alam membawa potensi gangguan bagi satwa dan jalur hutan. Sampah jadi musuh nyata, berserakan di antara akar kopi dan daun pinus luka kecil yang perlahan merusak ekosistem. Jika tak dikelola bijak, pariwisata bisa jadi pedang bermata dua. Di sinilah kita diuji: mampukah kita menikmati keindahan tanpa merusaknya? Seperti diingatkan United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), wisata berkelanjutan hanya mungkin jika pengelolaan lingkungan jadi prioritas utama.

Salah satu solusinya adalah mengubah aktivitas tracking jadi pengalaman edukatif. Jalur Jayagiri bisa jadi ruang kelas terbuka, tempat pendaki belajar tentang agroforestri, ekosistem, hingga pentingnya menjaga kebersihan. Papan informasi yang ditempatkan di titik strategis bisa memberi pengetahuan singkat dan mudah dicerna. Model semacam ini sudah terbukti berhasil di beberapa taman hutan kota, di mana edukasi mampu mengubah perilaku pengunjung secara nyata. Ketika seseorang paham, ia akan peduli. Dan ketika peduli, ia akan bertindak untuk menjaga.

Pada akhirnya, perjalanan dari Jayagiri ke Tangkuban Perahu membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar mendaki. Ini adalah kisah nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa bekerja sama bukan saling menaklukkan. Kopi tumbuh subur di bawah lindungan pinus, masyarakat sejahtera tanpa merusak tanah, dan nyanyian satwa hutan tetap terdengar, tanda bahwa segala sesuatu tetap lestari.


Halaman:

Komentar