Suasana di Teheran masih tegang. Pasca serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akhir pekan lalu, pertanyaan besar menggantung: siapa yang akan mengendalikan Iran sekarang? Dari pusaran ketidakpastian itu, satu nama lama muncul kembali dengan pengaruh yang justru kian kuat: Ali Larijani.
Di usianya yang ke-67, politikus konservatif ini bukan wajah baru. Tapi dalam beberapa hari krusial ini, perannya menjadi sentral. Larijani sendiri sudah menyatakan bahwa sebuah dewan kepemimpinan sementara akan dibentuk untuk mengisi kekosongan di pucuk pimpinan negara. Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisinya di garda depan.
Lalu, siapa sebenarnya Ali Larijani? Figur ini punya portofolio yang sangat luas. Mulai dari urusan nuklir, hubungan regional, hingga penanganan gejolak dalam negeri. Dia adalah mantan komandan Garda Revolusi (IRGC), pernah menjadi Ketua Parlemen selama belasan tahun, dan kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Jabatan terakhir inilah yang membuatnya punya akses langsung ke segala lini kekuasaan dan keamanan.
Menurut sejumlah saksi di lingkaran dalam, Khamenei sangat mengandalkan Larijani di bulan-bulan terakhir. Ketika protes melanda dan ketegangan dengan Barat memuncak, dialah yang jadi sandaran. "Khamenei sepenuhnya mempercayainya," kata analis konservatif Nasser Imani.
Imani menambahkan, pengalaman politik dan pemikiran strategis Larijani dianggap cocok untuk "momen sensitif" seperti sekarang.
Kepercayaan itu diterjemahkan ke dalam tanggung jawab yang amat berat. Larijani tak cuma mengawasi langkah keamanan dalam negeri. Dia juga berkoordinasi dengan sekutu regional macam Rusia dan Qatar, memimpin negosiasi nuklir yang alot dengan Washington, bahkan terlibat dalam perencanaan skenario darurat jika perang benar-benar pecah. Pada 2021, kepercayaan dirinya diperlihatkan lagi ketika ditugaskan merancang perjanjian strategis 25 tahun dengan China yang bernilai miliaran dolar.
Latar belakang keluarganya yang elite berasal dari keluarga ulama terkemuka tentu membantu. Namun begitu, ada satu hal yang mungkin menghalanginya untuk naik ke puncak: dia bukan ulama Syiah senior. Syarat itu penting untuk jadi Pemimpin Tertinggi. Karena itu, meski berpengaruh, Larijani tidak dianggap sebagai calon pengganti Khamenei.
Namun, laporan The New York Times menyebutkan hal menarik. Namanya disebut-sebut berada di urutan teratas dalam daftar kontinjensi untuk mengelola negara jika terjadi gangguan kepemimpinan. Artinya, dialah operator kunci di balik layar.
Soal karakternya, gambaran yang muncul beragam. Para pengamat melihatnya sebagai konservatif yang kalkulatif, campuran pragmatisme dan nasionalisme. Tapi di sisi lain, kritikus tak lupa mengaitkan namanya dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan isu pelanggaran HAM.
Bagi pendukungnya, di tengah tekanan yang menghimpit, Larijani justru dilihat sebagai salah satu dari sedikit figur yang masih bisa menjaga stabilitas. Sistem butuh penjaga, dan saat ini, dialah yang memegang kendali.
Masa depan Iran masih gelap. Tapi untuk sementara, jalan itu diterangi oleh sosok yang sudah puluhan tahun berkeliaran di koridor kekuasaan Teheran.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Menteri ESDM: Indonesia Kejar Pasokan Minyak Mentah dari Rusia untuk Tutupi Defisit Energi
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla