Di Balik Peringatan Hari Guru, Perlindungan dan Kesejahteraan Masih Jadi Mimpi

- Rabu, 26 November 2025 | 20:00 WIB
Di Balik Peringatan Hari Guru, Perlindungan dan Kesejahteraan Masih Jadi Mimpi

Guru honorer Supriyani di Konawe Selatan harus berurusan dengan polisi atas laporan orang tua siswa.

Guru Zaharman di Bengkulu diserang orang tua murid menggunakan ketapel.

Seorang guru di Banyuwangi dilaporkan hanya karena mencukur rambut siswa yang melanggar aturan sekolah.

Data nasional tahun 2024 mencatat 573 kasus kekerasan di sekolah, dengan 10,2% korbannya adalah guru. Lebih dari 150 kasus kriminalisasi terhadap guru tercatat dalam lima tahun terakhir. Ketika tindakan pedagogis dianggap sebagai pelanggaran hukum, profesi guru kehilangan wibawanya. Guru yang takut bertindak mustahil bisa membentuk disiplin dan karakter peserta didik dengan optimal. Lalu, apa yang tersisa dari pendidikan kita?

Negara Tak Boleh Hadir Hanya di Panggung Seremoni

Melihat realitas ini, negara tidak bisa lagi hanya hadir lewat pidato apresiatif atau upacara seremonial belaka. Yang dibutuhkan adalah kebijakan nyata: perlindungan hukum untuk tindakan pedagogis yang proporsional, penyelesaian status guru honorer melalui jalur ASN/PPPK yang adil, pembayaran tunjangan yang tepat waktu, penyederhanaan beban administratif yang selama ini memakan waktu mengajar, serta regulasi tegas mengenai hubungan sekolah dan orang tua agar guru tidak selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tapi selama ini, guru seringkali menanggung bebannya sendirian.

Hari Guru seharusnya bukan lagi seremoni yang menutupi masalah struktural. Ini harus jadi momen refleksi nasional bahwa guru sedang berada di titik kritis: krisis kesejahteraan, krisis kewenangan, dan krisis perlindungan. Bangsa ini tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya. Dan kualitas guru tidak akan pernah melampaui cara negara memperlakukan mereka.

Jika guru terus hidup dalam ketidakpastian, bekerja di bawah tekanan, dan mendidik dengan ketakutan, maka kita telah gagal. Bukan cuma pada mereka, tapi pada masa depan bangsa ini sendiri.

Guru tidak membutuhkan upacara yang megah. Mereka butuh keberpihakan. Mereka butuh perlindungan. Mereka butuh kepastian hidup. Karena martabat guru adalah martabat bangsa. Masa depan Indonesia hanya akan sekuat penghormatan yang kita berikan kepada orang-orang yang setiap hari berjuang menjaga masa depan itu.

Saatnya berhenti membiarkan guru berjuang sendirian.

Selamat Hari Guru, Guru Sejahtera, Bermartabat!


Halaman:

Komentar