Wall Street menutup pekan dengan nada suram. Pada Jumat (27/2/2026) waktu setempat, seluruh papan tulis di bursa New York dipenuhi warna merah. Kekhawatiran investor yang bertumpuk akhirnya meledak, menghantam keras saham-saham di sektor keuangan dan teknologi.
Hasilnya? Bursa AS mencatat penurunan bulanan terburuk dalam setahun terakhir. Tidak main-main.
Menurut laporan Reuters, ketiga indeks utama AS anjlok tajam dan mencatat penurunan mingguan yang cukup dalam. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average, misalnya, mengalami penurunan mingguan terparah sejak pertengahan November tahun lalu. Rinciannya, Dow Jones terpangkas 521,28 poin (1,05%) ke level 48.977,92. S&P 500 menyusut 29,98 poin (0,43%) ke 6.878,88. Sementara Nasdaq, yang penuh dengan saham teknologi, tergelincir 210,17 poin (0,92%) ke posisi 22.668,21.
Volume perdagangan hari itu ramai, mencapai 20,85 miliar saham. Angka ini sedikit mengungguli rata-rata 20 hari yang biasanya berada di kisaran 20,19 miliar saham.
Lalu, apa pemicu semua tekanan ini? Rasanya seperti gabungan dari segala hal yang ditakuti pasar. Ketidakpastian biaya dan disrupsi seputar kecerdasan buatan (AI) kembali mencuat. Ditambah lagi, sentimen negatif soal tarif perdagangan dan ketegangan geopolitik global yang tak kunjung reda membuat investor memilih untuk menarik dulu dananya.
Ryan Detrick, Chief Market Strategist di Carson Group, memberikan peringatan.
Artikel Terkait
BNBR Cetak Kenaikan 76,86%, Pimpin 10 Saham Top Gainers di Tengah Pelemahan IHSG
Delapan Instrumen Utang Baru Rp14,01 Triliun Warnai Pasar Modal
IHSG Turun Tipis, Nilai Transaksi Harian Melonjak 25% di Akhir Februari 2026
Netflix Mundur dari Perang Akuisisi, Paramount Rebut Warner Bros Discovery