Rumah sakit keempat yang mereka datangi adalah RS Bhayangkara Jayapura. Di sini, keluarga mendapat kejutan lain. Meski Irene tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas 3 yang ditanggung pemerintah, rumah sakit meminta uang muka Rp4 juta sebelum memberikan tindakan.
"Sampai di Rumah Sakit Bhayangkara, pemeriksaan identitas sama, BPJS, pemerintah tanggung, kelas 3. Tapi itu full. Ada ruang VIP, tapi kita harus bayar 4 juta, uang muka 4 juta bisa ditangani," jelas Ivan Ibo, keluarga yang mendampingi.
Keluarga tak memiliki uang sebanyak itu. Akibatnya, tidak ada tindakan medis yang dilakukan di IGD. "Jadi tindakan medis itu hanya di dalam mobil," ujarnya.
Mereka kemudian diarahkan ke RS Dok II Jayapura. Tapi nasib malah berpaling. Di perjalanan, kondisi Irene memburuk. Ia bersandar pada Ivan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
"Kakak jatuh di dada saya. Kakak bilang, 'Kalau ada saudara laki-laki, saya sudah tidak bisa.' Itu saja, langsung kakak tutup mata," kenang Ivan dengan suara bergetar.
Dia berteriak meminta sopir memutar balik ke RS Bhayangkara. Tapi semuanya sudah terlambat. "Sopir putar balik... datang kasih turun kakak korban, kasih tidur di tempat tidur. Pasang alat dari kaki sampai naik di dada. Alat itu semua tidak jalan," tuturnya.
Ivan meyakini kakaknya sudah meninggal di dalam mobil, sebelum sempat kembali ke rumah sakit. Sebuah akhir perjalanan yang seharusnya tidak terjadi.
Artikel Terkait
Departemen Keuangan Siap Ganti Rugi Tarif Trump, Tapi Prosesnya Bisa Tahan Bertahun-tahun
JPMorgan Siap Hidupkan Kembali Kantor Caracas, Menyambut Era Baru Minyak Venezuela
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina