Suasana di rumah duka itu benar-benar mencekam. Lalu, datanglah Arum, ibu kandung Alvaro Kiano Nugroho. Dia baru saja tiba dari Malaysia, dan langsung disambut pelukan keluarga yang tak kalah hancur. Mereka sama-sama berduka, mencoba memahami bagaimana anak bungsu mereka, baru delapan tahun, bisa tewas akibat ulah ayah tirinya sendiri.
Tangisnya pecah. Tak bisa dibendung lagi. Rasanya, seluruh kesedihan di ruangan itu menyatu, membuat siapa pun yang hadir ikut tercekat.
Menurut sejumlah saksi, Arum tiba di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sekitar pukul sembilan malam. Dia tak sendirian; Kapolsek Pesanggrahan, AKP Seala Syah Alam, mendampinginya langkah demi langkah.
Wajahnya tertutup masker hitam, tapi itu sama sekali tidak menyembunyikan nestapa yang menghujam dalam. Suaranya gemetar, sesekali tangannya terangkat untuk mengusap pipi yang basah. Dia tampak begitu lemas, hampir tak sanggup berdiri, apalagi berbicara.
“Belum bisa banyak jawab… makasih banyak ya.”
“Untuk lainnya tanyakan ke polisi saja,”
Ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan. Beberapa detik kemudian, dia kembali dipeluk keluarganya, tenggelam dalam duka yang sama-sama mereka pikul.
Artikel Terkait
Departemen Keuangan Siap Ganti Rugi Tarif Trump, Tapi Prosesnya Bisa Tahan Bertahun-tahun
JPMorgan Siap Hidupkan Kembali Kantor Caracas, Menyambut Era Baru Minyak Venezuela
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Beri Lampu Hijau di Tengah Bencana
Medvedev Peringatkan Eropa dengan Video Serangan Rudal Hipersonik ke Ukraina