Kehadiran model-model hybrid lokal ini ternyata punya dampak riil. Ribuan tenaga kerja terserap, mulai dari lini produksi, rantai pasok komponen, hingga logistik dan penjualan. Aktivitas produksinya yang terus meningkat jelas berkontribusi pada perputaran ekonomi nasional.
Riyanto memperkirakan prospek kendaraan hybrid di tahun 2026 akan lebih baik. Apalagi nanti, insentif untuk BEV impor utuh akan berakhir.
Pendapat senada datang dari pengamat otomotif Bebin Djuana. Menurutnya, kendaraan hybrid layak dapat perhatian lebih besar dari sisi kebijakan fiskal. Kalau fokus pemerintah memang pada pengurangan emisi, hybrid harus diperhitungkan bukan cuma BEV.
Tapi seberapa besar kenaikannya? Itu semua bergantung pada besaran insentif pajak yang diberikan, plus kecepatan produsen dalam menghadirkan model-model terbaru. Soalnya, konsumen kita dikenal selalu ingin yang baru dan ter-update.
Yang jelas, peta pasar kendaraan ramah lingkungan tahun depan akan sangat ditentukan oleh kesiapan industri dalam negeri. Mampukah mereka berproduksi secara efisien dengan kualitas yang tak kalah saing?
Artikel Terkait
Gunungan Sampah Bantargebang Bakal Disulap Jadi Harta Karun Energi
Nomade Coffee Truck Hijrah ke Pejaten Usai Kalah Saing di Thamrin
Pramono Anung Tegaskan UMP Jakarta 2026 Tak Berubah, Usulan KSPI Ditolak
Bantuan 10 Ton MNC Peduli Sampai di Aceh Tamiang, Warga Banjir Bandang Tersenyum Kembali