Trump Godok Rencana Kontroversial: Tawarkan Rp1,6 Miliar per Warga untuk Beli Greenland

- Jumat, 09 Januari 2026 | 22:15 WIB
Trump Godok Rencana Kontroversial: Tawarkan Rp1,6 Miliar per Warga untuk Beli Greenland

Gagasan Amerika Serikat untuk membeli Greenland kembali mencuat. Kali ini, dengan cara yang cukup mengejutkan: menawarkan uang tunai langsung ke penduduknya. Bayangkan saja, angka yang beredar bisa mencapai 100 ribu dolar AS per orang. Itu setara dengan sekitar 1,6 miliar rupiah untuk setiap warga yang bersedia bergabung.

Rencana ini, menurut laporan Reuters Jumat lalu, digodok di lingkaran dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. Empat sumber yang memahami pembahasan itu mengonfirmasinya. Meski detail teknisnya seperti kapan dan bagaimana pembayarannya masih kabur, dua sumber menyebut angka yang dibahas di antara pejabat Gedung Putih berkisar dari 10.000 hingga 100.000 dolar per kepala.

Dengan populasi Greenland yang hanya sekitar 57.000 jiwa, hitung-hitungannya jadi menarik. Jika angka tertinggi yang dipakai, AS harus merogoh kocek hampir 6 miliar dolar. Jumlah yang fantastis, tapi mungkin dianggap sepadan untuk mengamankan pulau strategis di kawasan Arktik itu.

Namun begitu, taktik ini punya risiko besar. Bisa terlihat terlalu transaksional, bahkan merendahkan. Penduduk Greenland bukan tanpa harga diri; mereka sudah lama berdebat tentang kemerdekaan dan hubungan ekonomi dengan Denmark.

Reaksi dari Nuuk, ibukota Greenland, pun keras dan jelas.

"Cukup sudah... Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi," tegas Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen lewat Facebook Minggu lalu, menanggapi kembali mencuatnya wacana akuisisi dari Trump.

Di sisi lain, keinginan Trump atas Greenland bukan hal baru. Dia kerap berargumen soal kekayaan mineral pulau itu, yang vital untuk aplikasi militer canggih. Ambisinya lebih luas lagi: agar seluruh Belahan Bumi Barat berada di bawah pengaruh Washington.

Pembicaraan internal soal cara merebut Greenland sebenarnya sudah berlangsung sejak sebelum masa jabatan kedua Trump. Tapi, momentumnya seperti mendapat angin baru. Pemicunya? Operasi militer AS yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awal Januari lalu. Menurut salah satu sumber, para ajudan di Gedung Putih ingin memanfaatkan momentum keberhasilan itu untuk mendorong tujuan geopolitik lainnya.

Meski demikian, realitas di lapangan mungkin tak semudah itu. Jajak pendapat menunjukkan, meski banyak warga Greenland yang terbuka untuk memisahkan diri dari Denmark, mayoritas justru tak ingin bergabung dengan AS. Tawaran miliaran rupiah itu, sepertinya, belum tentu bisa membeli hati mereka.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar