Oleh: Masrul Fajrin
Surabaya – Dunia masih bergulat dengan krisis energi yang tak kunjung reda. Ironisnya, ketergantungan pada bahan bakar fosil pun tetap tinggi. Nah, di tengah situasi seperti ini, ada secercah harapan dari kampus. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya baru saja mengembangkan bensin sawit, atau mereka menyebutnya biogasoline. Inovasi ini digadang-gadang lebih efisien dan berpeluang jadi alternatif energi nasional yang serius.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MScEng., PhD., melihat momentum ini sebagai peluang emas. Menurutnya, bensin sawit hasil riset tim ITS yang diberi nama Benwit bisa jadi solusi strategis buat pemerintah. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang harganya fluktuatif dan rentan gejolak politik global.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” tegas Bambang.
Di sisi lain, Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, membeberkan detail teknisnya. Inovasi ini digarap bukan cuma untuk kemandirian energi, tapi juga memotong ketergantungan pada BBM fosil yang selama ini membelenggu.
“Bersama tim, kami mengembangkan bensin nabati atau biogasoline berbahan dasar crude palm oil (CPO). Prosesnya menggunakan metode catalytic cracking, yaitu pemecahan molekul dengan bantuan katalis,” ungkap Hosta.
Riset yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini punya fokus utama yang menarik: meminimalkan residu. Hosta, yang ahli di bidang polimer dan nanomaterial, menjelaskan tantangan terbesarnya adalah mengubah minyak sawit mentah yang kental menjadi bahan bakar yang ringan dan siap pakai.
“Fokus kami adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi biogasoline yang siap digunakan,” jelasnya.
Jalan menuju hasil optimal ternyata berliku. Pada percobaan awal, tim menggunakan katalis alumina. Hasilnya, biogasoline yang dihasilkan sekitar 60 persen. Sayangnya, proses ini butuh suhu operasi yang sangat tinggi, mencapai 420 derajat Celsius. Boros energi.
Namun begitu, penelitian tidak berhenti di situ. Mereka beralih ke katalis bimetalik berbasis nikel oksida dan tembaga oksida. Hasilnya? Lebih menjanjikan. Efisiensi reaksi meningkat, suhu operasi turun drastis ke 380 derajat Celsius, dan yang paling menggembirakan, rendemen produksinya melonjak hingga 30 persen.
“Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial,” tambah Hosta.
Yang tak kalah cerdas, tim ini juga memikirkan limbahnya. Gas hasil samping dimanfaatkan kembali untuk memanaskan reaktor. Sementara residu cairnya, yang teksturnya mirip minyak, masih bisa dipakai sebagai bahan bakar alternatif untuk keperluan lain. Prinsipnya, hampir tak ada yang terbuang.
Penelitian ini juga dilengkapi analisis daur hidup atau Life Cycle Assessment (LCA). Hasil analisis menunjukkan jejak karbon yang terbilang rendah. Artinya, inovasi ini sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan. Sebuah terobosan yang nyata-nyata mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama di poin energi bersih dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Jadi, mimpi punya bensin dari kebun sendiri perlahan mulai menemukan bentuknya. Tinggal menunggu komitmen dan langkah selanjutnya.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Parlemen Ghana Sahkan UU Anti-LGBTQ Paling Represif, Nasib Kini di Tangan Presiden Mahama
Wapres Gibran Dorong PERDISKI Jadi Garda Terdepan Perjuangkan Kesejahteraan Guru
WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Capai 50 Persen, Vaksin Baru Tersedia dalam Beberapa Bulan
AS Resmi Tetapkan Dua Geng Kriminal Brasil sebagai Organisasi Teroris, Lula Protes Keras