PT Freeport Indonesia (PTFI) memprediksi bakal ada penurunan produksi emas dan tembaga pada tahun 2026. Padahal, ironisnya, justru di periode itulah harga kedua komoditas ini diperkirakan sedang mengalami penguatan yang cukup signifikan.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI yang digelar Senin (24/11/2025), Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengungkapkan rincian revisi proyeksi tersebut. Untuk tembaga, volume penjualan diproyeksikan hanya mencapai 478 ribu ton. Angka ini jauh lebih rendah dari rencana awal yang mencapai 703 ribu ton.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 32 persen dari target semula.
Sementara untuk emas, situasinya bahkan lebih dalam lagi. Dari target produksi awal 45 ton, kini perusahaan hanya memproyeksikan penjualan sebesar 26 ton saja. Itu berarti turun 43 persen.
"Sementara untuk emas, dari rencana kita 45 ton, ini RKAB yang baru tahun 2026 hanya memproduksi 26 ton, ini semua akan dikonsumsi oleh PT Antam, tidak ada rencana untuk mengekspor emas," jelas Tony.
Lantas, apa penyebabnya? Menurut keterangan sebelumnya dari PTFI, gangguan operasional di area Grasberg Block Cave (GBC) menjadi biang keladi penurunan produksi ini. Kabar baiknya, produksi di kompleks tambang Grasberg diprediksi bakal kembali normal pada 2027.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Tegaskan Anggaran Rp60 Triliun untuk Pascabencana Bukan Anggaran Mati
Bencana November 2025: 25 Desa di Aceh dan Sumut Terhapus dari Peta
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026